Perjuangan Selamatkan Karst dari Serakahnya Tambang

   •    Rabu, 21 Oct 2015 18:20 WIB
eagle award
Perjuangan Selamatkan Karst dari Serakahnya Tambang
Muhammad Ihwan dan Galang (kiri).

Metrotvnews.com, Makassar : Belalai besi ekskavator mencengkeram bukit kapur. Alat berat itu merontokkan dinding bebatuan dengan sekali sabet. Suara bom dinamit setiap hari terdengar menggelegar meledak.

Itulah bagian film dokumenter berdurasi 22 menit 45 detik yang tayang di Aula Prof Amiruddin, Kampus Universitas Hasanuddin, Tamalanrea, Makassar Selasa (20/10/2015). Pemutaran film ini adalah bagian apresiasi Eagle Institut untuk satu dari lima finalis Eagle Awards Documentary Competition 2015  Metro TV di wilayah asalnya.

Film dokumenter bertajuk "Pejuang dari Gua Purbakala" menjadikan sosok Muhammad Ihwan dan putra sulungnya Galang sebagai pemeran utama.

Kepada Metrotvnews.com, Ihwan berkisah kesibukan tambang marmer dan semen di Dusun Rammang Rammang Desa Salenrang Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan itu mengusik ketenangan warga kampung. Gugusan karst menjadi incaran pengusaha untuk menimbun pundi-pundi kekayaan.

"Kawasan karst dilingkupi banyak gua purba. Selain suaka bagi spesies endemik, gua-gua karst juga menyimpan cadangan air bersih," tuturnya.

Dilanda rasa sedih yang pedih menyaksikan kerusakan tersebut, Ihwan pun terdorong maju berjuang. Bersama para aktifis lingkungan setempat, dia berupaya menyelamatkan gua-gua purbakala itu. Salenrang, desa tempat mereka lahir dan bermukim serta mencari nafkah.

"Saya ingin Galang dan adik-adiknya masih bisa menikmati indahnya karst Salenrang saat mereka dewasa kelak. Kami kesulitan air bersih baik musim kemarau maupun air hujan, padahal karst itu sumber air. Ada yang salah di sini. Saya ingin ada perubahan, "tegas Iwan.

Pemutaran film itu dihadiri setidaknya 300-an mahasiswa dan pemerhati lingkungan. Kegiatan diisi diskusi tentang pentingnya penyelamatan karst.

Kisah perjuangan Iwan dkk melestarikan kawasan karst diangkat dalam film dokumenter karya duo sineas asal Makassar, Nurtaqdir Anugrah dan Muhammad Fahmi Iskandar.

"Ada pengeksploitasian seacara besar-besaran situs prasejarah di Maros. Tapi tidak dipublikasikan. Lingkungan di sana terancam. Makanya saya mengangkat isu karst ini dalam bentuk dokumenter," kata ko-sutradara Nurtaqdir,

Nurtaqdir mengaku sempat lama mencari-cari subjek filmnya. Taqdir melakukan riset selama dua bulan. Itu dilakukan untuk memantapkan alur cerita di film besutannya.

(Andi Aisyah Lamboge)


(LHE)

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

11 hours Ago

Pengacara terdakwa kasus korupsi KTP-el Setya Novanto, Maqdir Ismail menuding dakwaan milik KPK…

BERITA LAINNYA