Digelandang ke Tahanan, Begini Gelagat Dewie Yasin Limpo Cs

Yogi Bayu Aji    •    Kamis, 22 Oct 2015 03:01 WIB
ott
Digelandang ke Tahanan, Begini Gelagat Dewie Yasin Limpo Cs
Dewie Yasin Limpo ketika keluar KPK menuju ruang tahanan/Metrotvnews.com/Yogi Bayu Aji

Metrotvnews.com, Jakarta: Anggota Komisi VII dari Fraksi Partai Hanura Dewie Yasin Limpo dan empat orang tersangka baru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selesai menjalani pemeriksaan. Mereka semua digelandang ke Rumah Tahanan KPK untuk ditahan sementara.

Pantauan Metrotvnews.com, tersangka yang pertama keluar adalah sekretaris pribadi Dewie, Rinelda Bandaso, pada pukul 00.55 WIB Kamis (22/10/2015) dini hari. Dia yang telah mengenakan rompi tahanan oranye memilih bukam tak bersuara.

Rinelda berusaha menutupi wajahnya dengan kain kerudung oranye-hijau menghindari sorotan kamera wartawan. Pada pukul 01.22 WIB, keluarlah staf ahli Dewie, Bambang Wahyu Hadi, yang juga tutup mulut.

Sekitar dua puluh menit kemudian, keluar Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Deiyai, Papua, Iranius. Tampak mengenakan topi dan rompi tahanan, dia juga ogah bicara.

Pukul 01.59 WIB, giliran pengusaha bernama Setiadi yang menampakkan diri dengan menutupi kepalanya dengan sweater. Namun, sama seperti tersangka lain, dia juga tak mau bicara.

Kemudian pukul 02.30 WIB, Dewie akhirnya keluar dan bersedia buka mulut. Dia membantah bila telah menerima suap seperti yang disangkakan.

"Saya akan buktikan kau saya tidak bersalah. Saya tidak pernah menerima uang itu, melihat saja tidak. Mendengar baru sekarang," kata Dewie dengan nada sedih di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis pagi.

Selasa 20 Oktober 2015 kemarin, Anggota Komisi VII DPR Fraksi Hanura Dewie Yasin Limpo ditangkap KPK. Adik Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo ini dicokok bersama enam orang lainnya.

Pertama, sekitar pukul 17:45  penyelidik dan penyidik tangkap tangan sejumlah orang di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Mereka adalah sekretaris pribadi Dewie, Rinelda Bandaso; Pengusaha Setiadi; Pengusaha Harry; Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Deiyai, Papua, Iranius; ajudan Setiadi, Devianto dan seorang supir mobil rental.

Di sana telah terjadi serah terima uang dari Setiadi dan Harry kepada Rinelda Bandaso. Dalam penangkapan ini, petugas KPK menemukan uang dalam bentuk dolar Singapura sekitar SGD177. 700 di dalam snack makanan ringan.

Kemudian, pukul 19.00 WIB, KPK menangkap tangan Dewie Yasin Limpo dan staf ahlinya  Bambang Wahyu Hadi di Bandara Soetta. Mereka semua kemudian digelandang ke kantor lembaga antikorupsi.

Setelah menjalani pemeriksaan intensif di KPK, akhirnya KPK menetapkan tersangka terhadap Iranius, Setiadi, Dewie Yasin Limpo, Rinelda Bandaso, dan Bambang Wahyu Hadi. Iranius dan Setiadi diduga pemberi suap melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara, Dewie Yasin Limpo, Rinelda Bandaso, dan Bambang Wahyu Hadi diduga sebagai penerima suap. Mereka diduga melanggar pasal 12 huruf a atau b atau pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Dari pemeriksaan, uang suap diduga diberikan  terkait proyek pengembangan pembangkit listrik tenaga mikro hidro di Deiyai, Papua tahun anggaran 2016. Proyek ini masih dibahas dalam Rancangan Anggaran Pendapatan & Belanja Negara (RAPBN) 2016.
 


(OJE)

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

6 hours Ago

Pengacara terdakwa kasus korupsi KTP-el Setya Novanto, Maqdir Ismail menuding dakwaan milik KPK…

BERITA LAINNYA