Perbankan Bidik Pasar Layanan Nontunai

Ade Hapsari Lestarini    •    Kamis, 22 Oct 2015 18:05 WIB
perbankan
Perbankan Bidik Pasar Layanan Nontunai
Ilustrasi -- ANTARA FOTO/Wahyu Putro

Metrotvnews.com, Jakarta: ‎Perbankan nasional masih terus menggarap pasar layanan nontunai bagi masyarakat guna memudahkan transaksi. Terlebih, saat ini sebagian besar masyarakat sudah mengenal teknologi berupa perangkat telepon genggam dan gadget lainnya.

Kepala Ekonom Bank Negara Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto mengatakan, jika melalui pendekatan teknologi, makin banyak masyarakat bisa tersentuh layanan perbankan.

"Layanan perbankan untuk transaksi nontunai ini jelas bisa mempermudah masyarakat melakukan transaksi dan menjauhkan diri dari berbagai tindak kejahatan akibat membawa uang tunai dalam jumlah yang banyak," ungkap Ryan, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis (22/10/2015).

Namun, Ryan menjelaskan ada juga tantangan kendati sejumlah teknologi sudah menawarkan banyak kepraktisan dalam bertransaksi keuangan lewat layanan digital. Di antaranya karena masih banyak masyarakat masih ragu untuk menggunakannya. Kepraktisan yang ditawarkan ternyata masih belum cukup mengatasi rasa khawatir akan keamanan bertransaski lewat layanan keuangan digital.

"Keraguan ini yang harus dijawab dan direspons perbankan dan otoritas yang ada. Masyarakat harus diedukasi, disosialisasikan soal manfaat bertransaksi nontunai. Isunya ini kan memang soal praktis, aman dan nyaman," kata Ryan.

Menurutnya, dengan perkembangan teknologi saat ini, ketiga aspek yakni kepraktisan, keamanan, dan kenyamanan kian hari kian meningkat kualitasnya. Hanya saja, sejauh ini faktor keamanan dan kepraktisan yang menjadi faktor utama agak sedikit terganggu oleh kenyamanan yang sedikit berkurang. Bahkanm semakin tinggi tingkat keamanan yang ditawarkan, akan mendiskon kenyamanan.

"Tapi ini pilihan. Aman dan nyaman itu trade off. Mau nyaman sekali, tapi keamanannya bisa berkurang. Makanya mengapa kita harus sering masukan PIN saat bertranksi dan harus rajin mengubahnya dalam waktu tertentu, ini mengorbankan sedikit kenyamanan tapi membuat aman," tuturnya.

Dengan sejumlah perkembangan saat ini, masyarakat memang tak perlu lagi khawatir dalam bertransaksi nontunai. "Hidup kita makin dimudahkan, ini juga bisa mendorong e-commerce dan mengurangi tindak korupsi yang biasanya menghindarai transaksi lewat perbankan. Ujungnya mendorong financial inclusion atau akses keuangan untuk semua masyarakat," tuturnya.

Ia memastikan, menjelang implementasi masyarakat Ekonomi ASEAN 2020 untuk industri perbankan, bank-bank nasional akan terus mengningkatkan kemampuan dan pelayanannya.

"Funding to GDP kita masih sekitar 40 persen, artinya 60 persen penduduk belum melek perbankan. Ini disadari bank nasional sebagai peluang, jangan sampai justru digarap bank asing khususnya dari Thailand, Malaysia, dan Singapura nantinya," ujar Ryan.

Sementara itu, Ricky Satria selaku Deputi Direktur Program Elektronifikasi dan Keuangan Inklusif Bank Indonesia (BI) menuturkan, sampai saat ini, kemanan nasabah menjadi saatu perhatian yang penting buat BI. Hal ini sejalan dengan target bank sentral menggenjot gerakan nasional transaksi nontunai.

"80 persen orang saat ini masih pegang cash. Padahal ada 310 juta telepon genggam beradar di Indonesia. Penerima bansos pun 70 persen punya ponsel. Sayang kalau cuma dipakai telepon sms, dan untuk akses media sosial saja," ucapnya.

Menurutnya, dengan perkembanagn teknologi dan sejumlah media social yang diminati masyarakat, perbankan dan operator telekomunikasi dan sejumlah pihak bisa memanfaatkannya. "Sekarang dengan media sosial kita bisa bikin kredit scooring atau apply kredit tanpa collateral (jaminan). Umur produktif penduduk yang lagi tinggi dan kegemaram dengan media sosial ini merupakan potensi untuk memasarkan digital banking, e-money, dan sebagainya," pungkasnya.


(AHL)