Ini Rincian Kesepakatan Bisnis USD20 Miliar Indonesia-AS

Arif Wicaksono    •    Rabu, 28 Oct 2015 13:33 WIB
indonesia-as
Ini Rincian Kesepakatan Bisnis USD20 Miliar Indonesia-AS
: Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo bersiap memasuki pesawat untuk bertolak ke Amerika Serikat di Bandara Halim Perdanakusuma. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

Metrotvnews.com, Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir di Kantor US Chamber of Commerce (Kamar Dagang AS) untuk menyaksikan kesepakatan bisnis para pengusaha Indonesia dan Amerika Serikat.

Dilansir dari laman Setkab, Rabu (28/10/2015), kehadiran Presiden Jokowi disambut langsung oleh Presiden Kamar Dagang Tom Donohue, Presiden Dewan Bisnis AS (US ASEAN Business Council) Alex Feldman, dan Presiden Unisindo Ambassador David Merril. Selain itu juga hadir 250 pengusaha dan pengambil kebijakan dari Indonesia dan Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, Kepala Badan Kerjasama Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani, mengatakan dalam kunjungan Presiden Jokowi ke AS ini dicapai kesepakatan kerja sama atau deal business senilai USD20,075 miliar. Berikur rincian dari deal business itu adalah:

A. Kesepakatan bisnis sebesar USD15.705 miliar yakni:

1. Perjanjian jual beli gas alam cair (LNG) antara Pertamina dan Corpus Christie Liquefaction senilai USD13 miliar, untuk pengiriman LNG ke FSRU Lampung bagi kebutuhan gas di wilayah barat Indonesia dan LNG Terminal untuk Indonesia Timur.

2. Ekspansi Phillip Morris sebesar USD1,9 miliar (USD500 juta untuk belanja modal dan USD1,4 miliar berupa penerbitan saham baru Sampoerna). Belanja modal tersebut untuk perluasan pabrik dan perkantoran serta investasi yang akan dilakukan dalam kurun waktu 2016-2020.

3. Coca Cola juga akan investasi USD500 juta untuk perluasan dan penambahan produksi, pergudangan, distribusi, dan infrastruktur minuman ringan selama 2015-2018.

4. Rencana pengembangan lahan "shale gas" Eagle Ford, Fasken milik Swift Energy yang akan dilakukan oleh Saka Energi dengan Swift Energy di Webb County, Texas dengan nilai sebesar USD175 juta.

5. Kesepakatan bisnis antara PT PLN (Persero) dengan General Electric, yaitu antara PLN Gorontalo dengan General Electric dengan nilai sebesar USD100 juta untuk pembangunan 100 megawatt (mw) gas turbin dan cydepower di Gorontalo.

6. Kerja sama Universitas Udayana dengan Skychaser Energy untuk konservasi air dan reduce power consumption dengan nilai sebesar USD30 juta. 

7. Kerja sama antara BNI syariah dengan Master card untuk peluncuran kartu debit haji dan umroh yang diselenggarakan oleh BNI Syariah dengan Master Card.

B. Kesepakatan bisnis bernilai USD4.547 Juta terbagi dalam tiga grup, yakni:

Grup 1

1. Antara PT PLN (Persero) dengan UPC Renewables senilai sebesar USD850 juta untuk pembangunan 350 mw Pembangkit Listrik Tenaga Bayu dalam waktu tiga tahun (2015-2018).

2. Antara Cikarang Listrindo dengan General Electric nilai investasi sebesar USD600 juta untuk perluasan pembangunan pembangkit listrik (IPP).

3. Antara PT Indonesia Power dengan General Electric untuk pembangunan pembangkit di Jawa Tengah sebesar 700 mw senilai USD400 juta.

4. Antara PT PLN Batam (Persero) dengan General Electric senilai sebesar USD525 juta untuk pembangunan pembangkit bergerak (mobile) 500 mw di Mataram, Bangka, Tanjung Jabung, Pontianak, Lampung dan Sei Rotan.

Grup 2

1. Antara PT Kereta Api Indonesia dengan General Electric, senilai sebesar USD60 juta untuk perawatan 50 lokomotif selama delapan tahun.

2. Antara PT PLN (Persero) dengan Caterpillar senilai sebesar USD500 juta untuk proyek Dua GW pembangkit tenaga hibrid dan proyek solar PV+ energy storage untuk microgrid di daerah-daerah terpencil (500 pulau) dengan solusi pembiayaan initial capital investment melalui power purchase agreement dengan PLN.

3. Rencana perluasan investasi Cargill pada 2015-2019 dengan nilai sebesar USD750 juta, di mana sebesar USD84 juta sudah direalisasikan sehingga investasi baru yang akan dilakukan sebesar USD666 juta.

4. Pembangunan Remanufacturing Facility untuk Cylinder Head di Cileungsi, Bogor oleh Caterpillar senilai sebesar USD12 juta yang merupakan self signing.

Grup 3

1.  Kerja sama antara Perum Peruri dengan Crane Currency untuk pembangunan pabrik pengaman uang kertas yang akan dibangun di Karawang dengan nilai sebesar USD10 juta dan antara Perum PERURI dengan Jarden Zinc untuk pembangunan pabrik di Karawang dengan nilai sebesar USD30 juta. 

2. Kerja sama PT Pertamina dengan Bechtel corporation dalam kurun waktu lima tahun untuk pembangunan dan pengembangan kilang dengan nilai transaksi USD800 juta.

3. Antara Kilat Wahana Jenggala dengan Hubbell Power Systems yaitu ekspansi pada existing plant yang memproduksi/assembly insulator transmisi polymer untuk distribusi listrik, menambah lokalisasi transmisi sebesar USD5 juta-USD10 juta.


(SAW)