Hindari Radikalisme, Menag: Pemuda Harus Diajarkan Agama Moderat

Patricia Vicka    •    Rabu, 28 Oct 2015 13:43 WIB
terorisme
Hindari Radikalisme, Menag: Pemuda Harus Diajarkan Agama Moderat
Lukman Hakim dalam Dialog Peran Generasi Muda Dalam Pencegahan Terorisme di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta, Rabu (28/10/2015). (Metrotvnews.com/Patricia Vicka)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Paham radikal makin menggejala di Indonesia. Tampak ataupun tidak, radikalisme sudah mulai menyusup ke berbagai lapisan masyarakat. Tak sedikit pemuda yang terjangkit benih-benih terorisme itu.

Menteri Agama Lukman Hakim mengungkapkan ada dua faktor yang menyebabkan timbulnya tindakan terorisme. Berdasarkan hasil penelitian kemenag, faktor pertama adalah adanya ketidakadilan dan sikap pesimis terhadap aparat penegak hukum dan pemerintah.

"Mereka yang diperlakukan tidak adil dan tidak percaya dengan aparat yang berwenang memilih jalan instan untuk melakukan tindak kekerasan dalam bentuk teror untuk mendapatkan keadilan. Jadi Kekerasan adalah respons dari tidak adanya keadilan dan campur tangan aparat," ujar Lukman Hakim dalam Dialog Peran Generasi Muda Dalam Pencegahan Terorisme di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta, Rabu (28/10/2015).

Faktor kedua, menurut Lukman, adalah adanya ajaran keagamaan yang dipahami dengan salah dan dijadikan landasan untuk melakukan tindakan kekerasan. "Paham keagamaan yang diartikan tidak tepat itu malah dijadikan pembenaran melakukan teror," tegasnya.

Gabungan kedua faktor inilah yang mempengaruhi maraknya aksi teror di dunia, terutama di Indonesia. Para peneror tersebut, lanjut Lukman, menarget pemuda sebagai 'pasukan' utama melakukan aksi teror. Ditambah lagi masih banyak pemuda yang tidak berpendidikan dan tidak memiliki pengetahuan agama yang mendalam.

"Pemuda adalah fase puncak tertinggi untuk melakukan militansi," jelasnya. Solusi untuk mencegah tindakan teror adalah melakukan edukasi dan mengajarkan agama yang moderat.

"Anak muda harus ditanamkan faham keagamaan yang moderat bahwa agama apapun tidak mentolerir kekerasan dan memaksakan kehendak pada orang lain," pungkasnya.


(SAN)