25 Perusahaan Besar Diduga Aktor Kebakaran Hutan

Achmad Zulfikar Fazli    •    Kamis, 29 Oct 2015 16:24 WIB
kebakaran hutan
25 Perusahaan Besar Diduga Aktor Kebakaran Hutan
Pemadam kebakaran memadamkan kebakaran di hutan Kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan, Riau, Rabu 28 Oktober 2015. Antara Foto/FB Anggoro

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebanyak 25 perusahaan kelapa sawit terbesar di Indonesia diduga aktor kebakaran hutan dan lahan. LSM Transformasi untuk Keadilan (TuK) menyebut di antaranya Sinar Mas dan Wilmar Group.

Direktur Eksekutif TuK Indonesia Norman Jiwan mengatakan hampir seluruh perusahaan yang diduga terlibat membakar hutan dan lahan dikendalikan taipan. Kehadiran mereka memudahkan perusahaan sawit mendapat aliran dana dari bank.

"Di Indonesia tercatat ada 25 group bisnis yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit dan memiliki afiliasi pada perusahaan induk yang tersebar di Singapura, Kuala Lumpur dan London," kata Norman saat diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2015).

Dia menegaskan, lembaga finansial dan perbankan mesti bertanggung jawab atas kebakaran hutan. "Lembaga finansial dan perbankan jangan memberikan kredit perusahaan yang membakar lahan dan tunda IPO di bursa efek," terang dia.

TuK Indonesia juga mencatat 25 perusahaan besar menguasai 5,1 juta hektare lahan sawit atau setengah dari Pulau Jawa. Data ini berdasarkan analisa TuK sejak 2013.

"Dari 25 perusahaan itu aset kekayaan mereka mencapai Rp922,2 triliun pada 2013," pungkas dia.

Badan Reserse Kriminal Polri menetapkan tujuh perusahaan dengan penanaman modal asing (PMA) menjadi tersangka kasus pembakaran hutan dan lahan. Satu perusahaan berbasis di Tiongkok, satu di Australia, dan lima di Malaysia.

Kepala Badan Rerserse Kriminal Polri Komjen Anang Iskandar mengatakan, tujuh korporasi itu berinisial PT ASP (Tiongkok) membakar lahan di Kalimantan Tengah, PT KAL (Australia) membakar lahan di Kalimantan Barat, PT IA (Malaysia), PT H (Malaysia) PT MBI (Malaysia) di Sumatra Selatan, PT PAH (Malaysia) dan PT AP (Malaysia) membakar lahan di Jambi.

"Selain tujuh korporasi ditetapkan tersangka, Komisaris PT PAH berinisial KBH dari Malaysia dan Komisaris PT AP berinsial KKH juga kami tetapkan sebagai tersangka. Mereka dikenakan Pasal 116 UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup,” kata Anang.

Kebakaran hutan dan lahan sejak Agustus. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, hingga 25 Oktober total luas kebakaran hutan 1,7 juta hektare. Jumlah korban terkena asap di 18 provinsi mencapai 75 juta jiwa, 13 orang meninggal dunia. Kerugian materi Rp35 triliun.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi masalah kebakaran hutan dan lahan segera berakhir. Sebab, musim panas segera berlalu dan datang musim hujan pada November.

"Curah hujan yang cukup banyak dan rata akan mematikan bara api di lahan-lahan gambut dengan kedalaman hingga lima meter," kata Kepala Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG Kukuh Ribudiyanto kepada Metrotvnews.com, Rabu 28 Oktober.


(TRK)