100 Saksi Diperiksa Kasus Peledakan Mall Alam Sutra

Ilham wibowo    •    Kamis, 29 Oct 2015 16:57 WIB
ledakan di alam sutera
100 Saksi Diperiksa Kasus Peledakan Mall Alam Sutra
Suasana konfrensi pers kasus peledakan bom di Mall Alam Sutera--Metrotvnews.com/Ilham Wibowo

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepolisian akhirnya mengungkap kasus peledak bom di Mall Alam Sutra. Untuk membongkar kasus ini, kepolisian memeriksa 100 saksi.

"Kami olah TKP mendalam. Kemudian didapatkan 100 saksi. Kami tak ungkap ke publik, semua bekerja berdasarkan silent operation," kata Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti di Mapolda Metro Jaya, Kamis (29/10/2015).

Dia mengatakan, pemeriksaan saksi berbarengan dengan olah TKP, tak lama setelah bom meledak. Penyelidikan bekerja sama dengan Polrestro Tangerang dan Tim Datasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri.

Selain memeriksa seratusan saksi, polisi juga menelusuri rekaman CCTV di mal. Sampai karcis parkir pun dicek. Bahkan untuk menelurusi pelaku, polisi mendatangi pemilik kendaraan yang telah dicurigai hingga ke luar kota.

"Kami lakukan banyak penelusuran, CCTV, rekaman parkir, karcis parkir  setiap orang yang dicurigai diperiksa. Antara lain kita sudah periksa sepeda motor yang dicurigai lalu didatangi sampai ke Kediri, dan lain sebagainya," ucap Krishna.

Lebih lanjut, dari 100 orang saksi, hanya 19 yang diperiksa mendalam. Belasan orang itu dianggap mampu mengungkap pelaku. "Ada 19 orang yang melakukan berita acara pemeriksaan," terang dia.

Dari semua kerja itu, kepolisian akhrinya menangkap Leopard Wisnu Kumala, 29. Lelaki ahli IT itu ditangkap di sekitar Mall Alam Sutera, dua jam setelah peledakan.

Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian menyebut, bahan pengeboman di toilet kantin Mall Alam Sutera jenis triacetone triperoxide (TATP). Jenis ini baru pertama kali digunakan di Indonesia, tapi dua kali dipakai di luar negeri.

Tito mengatakan bom jenis ini hanya dua kali digunakan di dunia. Yakni insiden bom sepatu pada 2001 dan bom London 2005. Dia menerangkan, bom jenis ini sangat berbahaya lantaran mudah dibuat dan diledakkan. Tak perlu detonator.


(YDH)