Kebiri Belum Tentu Solusi

Surya Perkasa    •    Kamis, 29 Oct 2015 23:49 WIB
kebiri predator seksual
Kebiri Belum Tentu Solusi
Terdakwa pelaku mutilasi dan pembunuhan Baekuni alias Babe (50) seusai mengikuti sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (28/9/2010). Babe dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum. (foto: MI/Ramdani).

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla kencang menghembuskan wacana hukuman kastrasi (kebiri) kimia bagi pelaku kejahatan seksual kepada anak. Wacana ini pun didukung oleh lembaga-lembaga seperti Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), hingga ke organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama.
 
Namun bagaimanakah seseorang sebenarnya bisa menjadi pelaku kejahatan seksual terhadap seksual kepada anak, yang sebenarnya bisa dianggap sebagai penyimpangan seksual?
 
Psikolog Kasandra Putranto yang banyak menangani kasus kejahatan seksual kepada anak, berusaha menjabarkan apa yang membuat seseorang menjadi pelaku kejahatan. Banyak faktor yang menyebabkan kejahatan seksual kepada anak terjadi.
 
“Faktor genetik, internal pelaku, dan lingkungan memberi pengaruh,” kata Kasandra saat berdiskusi dengan metrotvnews.com, Rabu (28/10/2015).
 
Lewat riset, kelompok psikolog berhasil memetakan beberapa ciri umum profil pelaku kejahatan seksual kepada anak (child molester). Pertama, pelaku tidak hanya berasal dari kaum adam.
 
“Jadi bisa laki-laki bisa perempuan. Tapi kebanyakan laki-laki, karena yang berhasil terungkap dan tertangkap ya laki-laki,” tutur dia.
 
Pelaku juga tidak selalu dari kelompok orang dewasa. Terkadang pelaku kejahatan juga berasal dari kelompok bawah umur. Tidak jarang ditemui pelaku kejahatan seksual adalah anak berusia belasan tahun yang melecehkan ke bocah usia tiga atau empat tahun. Karena itu, tidak aneh bila rentang usia pelaku berada di angka 11-70 tahun.
 
Pelaku kejahatan seksual kepada anak juga tidak hanya tertarik ke sesama jenis, tapi juga bisa tertarik kepada anak yang berlawanan jenis. Namun satu hal pasti, pelaku kejahatan seksual memilki gairah seksual yang tinggi.
 
Salah satu yang menjadi karakter yang penting, pelaku adalah paedofil atau orang yang memiliki ketertarikan kepada anak-anak. “Tapi tidak semua paedofil itu pelaku kejahatan seksual kepada anak,” tegas Kasandra.
 
Masyarakat seringkali menganggap seorang paedofil dapat berbahaya. Namun pada kenyataannya, paedofil juga memiliki tingkatan-tingkatan. Kasandra memaparkan, ada paedofil yang hanya tertarik melihat anak. Kemudian ada paedofil yang tertarik melihat anak secara seksual. Di posisi teratas, ada paedofil yang kemudian tidak bisa menahan hasrat seksualnya dan kemudian melakukan kejahatan seksual terhadap anak.
 
“Tidak berdosa menjadi paedofil. Tapi ini (pelaku kejahatan seksual) paedofil yang “naik kelas” Semua pelaku kejahatan seksual anak adalah orang yang memiliki ketertarikan seksual kepada anak. Bedanya mereka tidak bisa lagi menahan gairah seksualnya yang tinggi,” terang Kasandra.
 
Kasandra secara pribadi mendukung pemberatan hukuman untuk pelaku kejahatan seksual kepada anak. Pelaku memang cenderung melakukan perbuatan berulang, dan tak jarang ke banyak korban pula.
 
Tak hanya soal syahwat
Beberapa pelaku yang melakukan kejahatan seksual kepada anak memang dilatarbelakangi syahwat. Tapi jika memang pemerintah melihat alasan tersebut untuk membuat hukuman kebiri kimia bagi pelaku, psikolog Reza Indragiri Amriel meminta pemerintah memikirkan ulang wacana ini.
 
Indra menilai pemerintah sudah salah paham jika melihat kastrasi hormonal akan memunculkan efek jera pada diri para pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Dengan mematikan dorongan seksual bukan berarti pelaku kejahatan seksual akan berhenti total dari perbuatannya.
 
“Faktanya, dalam sangat banyak kasus kejahatan seksual terhadap anak, motif pelaku ialah dominansi dan kontrol,” kata Reza dalam opininya di Media Indonesia, Senin (26/10/2015).
 
Di balik motfi pelaku juga ada amarah, dendam, rasa benci yang berkobar dan menjadi bahan bakar untuk melakukan kejahatan seksual. Luapan perasaan negatif bisa saja di dapat saat pelaku menjadi korban di masa lalu.
 
“Tindakan memviktimisasi anak-anak, dengan demikian, dapat dipahami sebagai cara si predator melampiaskan dendamnya,” ungkap dia.
 
Anak-anak menjadi target karena menjadi pihak yang paling mudah menjadi sasaran pengganti pengekspresian sakit hati sang predator. Kebiri kimia walau bisa mematikan syahwat tidak berarti dapat mematikan perasaan negatif tersebut.
 
Kasandra juga berpandat sama terkait wacana kastrasi kimia ini. Hukuman berat memang harus diberikan kepada pelaku kejahatan seksual kepada anak. Namun bila bicara hukuman kastrasi kimia, bukan berarti Kasandra menerima tanpa melontarkan kritik.
 
“Kebiri kimia memang menekan syahwat. Tapi bukan berarti bila alat kelaminnya tidak berfungsi, pelaku akan berhenti melakukan kejahatan seksual,” ucap psikolog forensik dan klinis yang banyak menangani kasus kejahatan seksual anak di Ibu Kota ini.
 
Karena alasan itu, dia meminta pemerintah mengevaluasi ulang dasar pemikiran dan tujuan kebiri kimia yang semakin digembar-gemborkan pemerintah Indonesia ini. Sebab, pro-kontra kebiri kimia ini justru banyak muncul di kelompok medis.
 
“Ini harus ditentukan dulu. Sebagai apa pemerintah Indonesia ingin membuat hukuman kebiri kimia ini. Pengobatan untuk pelaku, hukuman untuk membuat jera, atau hanya sebagai opsi hukuman?” kritik Kasandra.
 
Eksekusi kebiri kimia dan etika profesi dokter
Walau dukungan-dukungan dilontarkan, namun kelompok medis yang tergabung Ikatan Dokter Indonesia memberikan suara yang berbeda terkait wacana kastrasi kimia ke pelaku kejahatan seksual terhadap anak.
 
Ketua Biro Hukum dan Pembelaan Anggota (BHP2A) PB IDI, HN Nazar sepakat kalau pelaku kejahatan seksual kepada anak. Namun pemerintah juga harus mempertimbangkan faktor teknis dan faktor medis hukuman ini.
 
“Ini perlu dipertimbangkan, kita sangat sepakat dengan pemberatan hukuman, tapi belum tentu sepakat dengan cara suntik kimia," ungkap Nazar, Jumat (23/10/2015).
 
Kastrasi kimia ini harus dilakukan berulang-ulang secara periodik. Perlu ada pengawasan dari kelompok medis dalam prosedur yang justru banyak dipakai untuk pengobatan ini.
 
Kelompok dokter merasa sangat keberatan bila harus menjadi eksekutor hukuman ini. Bagi dokter, penggunaan prosedur pengobatan untuk menghukum manusia sangat bertentangan dengan etika profesi dokter.
 
"Harus ada suatu rentetan prosedur yang benar-benar matang. Sebab, dari segi etika luhur profesi, jangan dokternya sebagai eksekutor," terang Nazar.
 
Karena alasan itu pemerintah diminta membuat ulang modulasi. Tidak hanya pelaku, tapi juga membuat orang tidak ingin meniru perbuatan tersebut.
 
Dampak medis kastrasi kimia
Kelompok psikolog menilai hukuman kastrasi kimia memang perlu dikaji kembali. Selain tidak mampu memutus rantai alasan psikologis kejahatan seksual kepada anak terjadi, efektifitas hukuman ini untuk membat pelaku jera juga dipertanyakan.
 
“Sampai saat ini efektifitas hukuman kebiri kimia atau yang dikenal kastrasi ini masih belum terbukti. Bahkan di negara-negara yang sudah menerapkan hukuman ini,” kata psikolog Kasandra.
 
Selain itu, efek samping negatif hukuman kastrasi kimia ini juga masih menjadi sorotan kelompok medis. Inilah yang menjadi alasan Ikatan Dokter Indonesia meminta pemerintah pertimbangkan kembali wacana kastrasi.
 
Kastrasi kimia biasanya menggunakan zat anti androgen jenis Medroxyprogesterone acetate atau Cyproterone untuk menekan hormon testosteron. Testosteron sendiri merupakan hormon yang berfungsi untuk mengatur dorongan seksual pada pria dan wanita, serta bertanggung jawab untuk mengatur produksi sel sperma pada pria.
 
Sebuah penelitian dari ahli endokrinologi Universitas California menunjukkan, pria dengan dengan kadar testosteron rendah mengalami penurunan kualitas hidup. Hal ini dibenarkan oleh Ketua Bagian Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And.
 
Wimpie mengatakan rendahnya kadar testosteron dapat menyebabkan assa otot berkurang, terjadi pengeroposan tulang, meningkatnya kadar lemak, dan gairah hidup berkurang. Beberapa penelitian terdahulu juga menunjukan sikap penjantan akan menurun dan menimbulkan sikap feminim secara biologis.
 
Terapi hormon testosteran ini sendiri sudah lama dipakai dalam operasi transgender. Pria yang ingin menjadi wanita menggunakan terapi menekan hormon testosteron dan meningkatkan hormon esterogen, agar menghilangkan karakter pria dan menghilangkan karakter perempuan. Begitu juga sebaliknya, wanita yang ingin menjadi pria menyuntikkan hormon testosteron untuk memunculkan karakter laki-laki di tubuhnya.
 
Jika tidak ditimbang dan disiapkan dengan baik, kastrasi kimia untuk pelaku kejahatan seksual kepada anak justru memunculkan masalah baru. Pelaku di 21.689.797 kasus di kurun waktu 2010-2015 berpotensi turun kualitas hidupnya, atau justru menambah transgender tidak sukarela di Indonesia.

 
(ADM)