Ini Komentar Kedua Paslon Usai Debat Publik

Amaluddin    •    Jumat, 30 Oct 2015 23:49 WIB
Ini Komentar Kedua Paslon Usai Debat Publik
Duel Risma-Whisnu versus Rasiyo-Lucy di Pilkada Surabaya, MTVN - Amaluddin

Metrotvnews.com, Surabaya: Suasana debat publik Pilwali Surabaya, Jawa Timur yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Gedung Dyandra, Jalan Basuki Rahmat, pada Jumat malam (30/10/2015), berjalan 'panas'. Ini terlihat dari kegaduhan masing-masing pendukung pasangan calon (Paslon). Bahkan, moderator acara, Rosiana Silalahi tampak sewot dan mengancam akan mengusir para pendukung Paslon dari dalam gedung.

Di acara debat publik bertema "Pelayanan dan Kesejahteraan Masyarakat" ini, pasangan patahana, Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana terlihat lebih menguasai materi dibanding lawannya, yakni pasangan nomor urut satu Rasiyo-Lucy Kurniasari yang disokong Partai Demokrat dan Partai Amanah Nasional (PAN).

Bahkan, calon wakil wali kota urut satu, Lucy Kurniasari sempat gagap dan grogi memberikan paparannya, sehingga terpaksa diambil alih Rasiyo. Mantan Sekdaprov Jawa Timur inipun lebih banyak mendominasi penyampaian visi-misi pasangan SeRasi.

Sementara pasangan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Risma-Whisnu dengan lugas dan gamblang menyampaikan materi jawaban sesuai pertanyaan yang disampaikan moderator, termasuk pertanyaan lawan (Rasiyo-Lucy).

Di tengah acara, saat panas-panasnya debat, Rosiana Silalahi sempat naik pitam karena ulah masing-masing pendukung di dalam ruangan. "Saya tadi juga tahu ada yang batuk-batuk saat paslon berbicara. Kalau memang sakit lebih baik keluar, jangan bikin gaduh. Ketua KPU tolong usir keluar mereka yang bikin gaduh," tegas Rosiana memperingatkan.

Usai acara, duel program yang tak seimbang ini diakui pasangan Rasiyo-Lucy. "Jadi untuk kepentingan perempuan dan anak muda, kita sepakat sesuai segmen. Karena di materi ini, Paklek (Rasiyo) lebih menguasai data, jadi Pakleklah yang lebih dominan," kata Ning Lucy kepada wartawan.

Rasiyo pun mengakui bahwa debat kali ini dirinya lah yang lebih menguasai ketimbang Lucy. "Jadi sesuai pembagian. Ning Lucy lebih ke anak muda dan perempuan. Ini kan masih ada lagi debat-debat berikutnya. Itu nanti (masalah perempuan dan anak muda) Ning Lucy yang akan mendominasi. Kita sudah sepakat itu," kata Rasiyo.

Mantan Sekdaprov Jawa Timur ini melanjutkan, "Pada pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan, juga terkadang dijawab tidak sesuai konteks. Ada yang tidak dijawab. Itu kalian-kalian (wartawan) yang menilai sendiri bagaimana acaranya. Sudah ya, tadi kan sudah tahu sendiri bagaimana acaranya," pungkas Rasiyo singkat.

Sementara ‎giliran pasangan Risma-Whisnu yang memberikan keterangan persnya usai acara, tampak sumringah. Bahkan, Risma kerap menebar tawanya yang khas. Guyonan seperti biasa saat dia masih memimpin Kota Surabaya, masih terdengar renyah.

‎Risma menyanggah enggan memberi jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan lawannya saat debat, terkait kondisi warga Surabaya, mulai dari masalah pendidikan hingga angka pengangguran. "Saya ingin menyampaikan, kalau kita ngomong real, datanya itu apa? Kita tidak bisa ngomong data soal Surabaya maju dan berkembang, apa suport datanya yang mendukung? Seperti misalnya, banyak orang nganggur di Surabaya, itu datanya apa?," paparnya.

Dia melanjutkan,"Dia Surabaya, banyak pekerjaan non formal (wira usaha). Apakah itu bisa disebut mereka nganggur? Orang tidur-tidur di rumah tapi punya pekerjaan non formal di rumah apa bisa disebut nganggur? Di Surabaya ini banyak sekali pekerjaan-pekerjaan non formal," kata Risma.

Risma pun menyerahkan penilaian ini, kepada warga Surabaya sendiri. Sebab, kata dia masing-masing warga yang berhak menilai dirinya berpenghasilan atau tidak. "Di Surabaya ini unik. Kotanya besar, menjadi Kota Metropolis, tapi dukungan pekerjaan-pekerjaan non formilnya gede. Itulah Surabaya, kita tidak usah menjadi orang lain, kalau kita ingin maju," tandasnya.

Whisnu juga memberikan contoh Kampung Lontong di Banyu Urip Lor, Surabaya, yang hampir seluruh warganya membuat lontong di rumahnya masing-masing. ‎"Apa yang disampaikan Bu Risma dan saya tadi itu, real. Misalkan di Kampung Lontong, itu banyak orang, yang bisa dibilang pengangguran, tapi perputaran ekonomi ada di situ."

"Jadi data yang menyebut banyak warga di Surabaya itu pengangguran seperti apa? Semuanya, biar masyarakat senidir yang menilai, bukan Paslon antar Paslon," pungkasnya.
(AZF)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

4 days Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA