Beberapa Asumsi Makro APBN 2016 Dinilai Kurang Tepat

Annisa ayu artanti    •    Sabtu, 31 Oct 2015 13:46 WIB
apbn 2016
Beberapa Asumsi Makro APBN 2016 Dinilai Kurang Tepat
Suasana sidang paripurna mengesahkan RUU APBN 2016 menjadi UU APBN 2016 (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Jakarta: Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryani SF Motik menilai ada beberapa asumsi makro di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 yang dirasa kurang tepat. Seharusnya, pemerintah lebih sensitif terhadap penyusunan asumsi tersebut. 

Menurut Suryani, pemerintah kurang percaya diri dalam merumuskan tiga asumsi makro ekonomi di APBN 2016, yakni tingkat inflasi, asumsi nilai tukar rupiah, dan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Ada beberapa asumsi menurut saya kurang tepat. Saya tidak tahu pemerintah kurang sensitif. Misalnya rupiah Rp13.900 per USD. Itu ketika diumumkan naik setengah persen. Kalau lihat rupiah belum seperti sekarang Rp13.700 per USD. Tapi, asumsi Rp13.900 per USD justru mendekati," kata Suryani, dalam sebuah diskusi, di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (31/10/2015).

Ia menilai, target nilai tukar rupiah yang ditetapkan pada sidang paripurna kemarin masih terbilang tinggi. Padahal, ada kemungkinan di tahun depan nilai tukar rupiah berada di level Rp13.250 per USD karena kisaran rupiah sekarang ini berada di level Rp13.600 per USD.

"Saya pikir pemerintah tidak percaya diri (dengan) asumsi rupiah," ungkap dia.

Selain itu, lanjut Suryani, aspek kedua adalah mengenai pertumbuhan ekonomi. Suryani berpandangan seharusnya pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka yang lebih tinggi lagi, mengingat Indonesia masuk sebagai negara G20 sehingga ada peluang untuk ekonomi Indonesia tumbuh lebih maksimal di tahun depan. 

"Kemudian ekonomi growth kita sudah di G20. Sebelumnya 5,7 persen. Situasi tahun ini serapan mengecil. Tahun depan 5,3 persen mestinya berubah lebih tinggi," jelas dia.

Lebih dari itu, lanjutnya, aspek ketiga adalah mengenai tingkat inflasi. Suryani menilai, tingkat inflasi saat ini masih tinggi yakni 4,7 persen. Salah satu faktor penyebab inflasi tinggi ada pada sektor makanan yaitu saat impor beras, daging, dan sebagainya. Namun dalam APBN 2016, sektor agrikultur malah tidak ditingkatkan.

"Kalau dilihat top budget 10 kementerian sayangnya di agrikultur paling rendah jadi tidak merefleksikan pemerintah bisa siapkan kantong-kantong untuk misalnya mau swasembada pangan. Tapi tidak tercermin di agrikultur," pungkas dia.



(ABD)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA