SE Ujaran Kebencian, Polri: Masyarakat Hati-hati, Jangan Sembarangan

Lukman Diah Sari    •    Senin, 02 Nov 2015 15:23 WIB
ujaran kebencian
SE Ujaran Kebencian, Polri: Masyarakat Hati-hati, Jangan Sembarangan
Irjen Anton Charliyan. Foto: Lukmah Diah Sari/MTVN

Metrotvnews.com, Jakarta: Surat edaran ujaran kebencian yang diterbitkan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menciptakan polemik. Ada yang mendukung, tak sedikit pula yang menolak. 

Banyak kalangan khawatir surat edaran itu diterbitkan untuk membungkam suara rakyat. Tapi, kekhawatiran itu dibantah Polri. 

"Surat edaran untuk mengingatkan masyarakat bahwa apabila masyarakat ataupun siapa pun yang mengeluarkan pendapat dalam orasi, pidato atau di dunia maya agar hati-hati. Jangan sembarangan," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Anton Charliyan di Gedung Divisi Humas Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (2/11/2015).

Pasalnya, menurut Anton, pernyataan kebencian, baik di dunia nyata maupun maya bisa berdampak besar. Dia mengingatkan masyarakat tak menghina, mencemarkan nama baik, provokasi, dan melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Terlebih, yang berkaitan dengan suku, agama, dan gender, atau kecacatan fisik.

"Karena kita dalam berbicara dan berpendapat harus menghargai hak orang lain. Karena sesuai dengan tuntutan ajaran tentang kebencian banyak yang merendahkan martabat kemanusiaan," bebernya.

Dia mengungkap, surat edaran itu diterbitkan lantaran banyaknya pengaduan yang diterima polisi. Selain itu, polisi yang mengamati apa yang terjadi di masyarakat. "Banyak ditemukan kata-kata kurang pantas yang bisa menyinggung orang lain," kata Anton.

"Makanya Kapolri mengeluarkan surat edaran itu, agar kita semua jangan begitu. Karena kalau begitu, akan terkena dampak hukum," lanjutnya.

Namun, dia menyakini, surat edaran ini bukan untuk membungkam kebebasan berpendapat. Tapi untuk 'mengerem' pelampiasan kalimat yang dilontarkan masyarakat.

"Mulutmu, harimaumu. Cermin budaya bangsa adalah kata-kata dan bahasa. Tentu kami memiliki tanggung jawab moral untuk mencegah hal itu terjadi," ungkapnya.

Tersangka ujaran kebencian, kata dia, bisa dijerat pasal beragam, tergantung hasil penyelidikan.

"Pasal bisa penghinaan 310, 311 fitnah, pasal menumbuhkan kebencian 156, pasal ITE ancamannya bisa 12 tahun dengan denda Rp12 milyar. Surat edaran itu hanya untuk mengingatkan, tidak ada larangannya yg dibuat," kata dia.


(KRI)