Mahasiswa Demo KPK Desak Atut Ditangkap

- 07 Oktober 2013 15:01 wib
MI/Rommy Pujianto
MI/Rommy Pujianto

Metrotvnews.com, Banten: Sekelompok mahasiswa berdemo di Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Senin (7/10). Mereka mendesak Gubernur Banten Ratu Atut Chosiah ditangkap.

Kumpulan masalah yang dihadapi masyarakat Banten telah menjadi gunung es, mulai dari kemiskinan, pengangguran, infrastruktur perhubungan, pendidikan hingga korupsi. Setelah menahan itu dalam waktu yang cukup lama, kekecewaan akhirnya tumpah dan terungkap. Masyarakat dan Mahasiswa sudah tidak sanggup kompromi dan menahan masalah yang telah terjadi bertahun-tahun tersebut.

Pemicunya adalah ketika Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap adik kandung Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah Tubagus Chaeri Wardhana atau dikenal Wawan terkait dugaan suap Pemilu Kada Lebak, Banten.

Ratusan mahasiswa yang berasal dari Himpunan mahasiswa Banten dan masyarakat seperti Jaringan Rakyat untuk Reformasi Banten (Jawara Banten) dan Universitas Tirtayasa dan lainnya berdemo di depan Gedung KPK. Mereka ingin KPK mengusut dugaan korupsi yang dilakukan dinasti politik keluarga Ratu Atut Chosiyah.

"Tangkap si Atut, Tangkap Si Atut sekarang juga. Banten, bukan Atut yang punya. Banten, Bukan Atut yang punya. Yang punya kita semua," nyanyi mahasiswa di Depan Gedung KPK, Jakarta.

Menurut Koordinator Lapangan, Usep Mujani mengatakan dugaan korupsi yang dilakukan keluarga Atut menyebabkan Banten peringkat kelima yang memiliki gizi buruk. Angka pengangguran di Banten 10,74% dari seluruh jumlah penduduk Banten pada 2013. Kemiskinan pada 2012 sebesar 2.643.135 jiwa. Peringkat pertama provinsi terkorup pada dinas pendidikan dengan kerugian negara Rp209 miliar dan provinsi terkorup ke 13 se-Indonesia.

Lalu, Atut mengorupsi dana hibah Rp340 miliar yang disalurkan ke 62 lembaga fiktif dan dimiliki keluarga Atut. Atut juga membangun rumah dinas gubernur Rp21,9 miliar, sementara tidak pernah ditempati, malahan disewakan seharga Rp200 juta perbulan.

Senada dengan itu, Humas Aksi Untirta Kahfi Nusantara mengatakan pada 2011 Kejaksaan Negeri Banten telah membidik Atut dan kroninya karena melakukan penyelewengan APBD pada 2007 hingga 2010. BPK bahkan menemukan kerugian negara hingga Rp1 triliun. LHP BPK pada 2007 dari 182 rekomendasi ditemukan kerugian Rp731,36 miliar, 2008 dari 17 temuan dengan kerugian Rp197,72 miliar, pada 2009 sebesar Rp13,08 miliar dan 2010 sebesar Rp16,89 miliar salah satunya pembelian kendaraan dinas pada biro umum dan perlengkapan.

"Bukan hanya itu, pada 2011 Rp340 miliar mengalir untuk dana hibah dan bansos. 10 lembaga penerima hibah dan bansos sebesar Rp4,5 miliar diduga fiktif, Rp28,9 miliar mengalir ke lembaga yang nama penerima dan alamat sama, dan lembaga yang menerima berasal keluarga Atut sebesar Rp29,5 miliar," katanya.

Bukan hanya itu, pergejolakan pun mulai mengalir ketidakpercayaan terhadap hasil Pemilu Kada di Banten yang diduga terjadi korupsi. (Raja Eben L)

()

Bakal calon presiden dari PDIP, Joko Widodo. -- Surya Perkasa

Teka-Teki Deklarasi Cawapres Jokowi

24 April 2014 21:51 wib

JOKOWI suguhkan teka-teki tentang cawapresnya.