Bahaya Kabut Asap Kebakaran bagi Kesehatan Paru Anak

   •    Rabu, 04 Nov 2015 11:55 WIB
kabut asap
Bahaya Kabut Asap Kebakaran bagi Kesehatan Paru Anak
Seorang personel pemadam kebakaran Manggala Agni memadamkan kebakaran di hutan Kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau. (foto: Antara/FB Anggoro).

M Yahya, Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Cabang Jakarta, Anggota Departemen Bidang Pembinaan Anggota dan Organisasi Ikatan Dokter Indonesia

SAAT ini bangsa Indonesia sedang menghadapi bencana nasional berupa kebakaran hutan, terutama daerah Sumatra dan Kalimantan. Hutan yang semula sebagai potensi sumber daya alam berubah menjadi monster yang menakutkan bagi penduduk yang tinggal sekitar areal hutan yang terbakar.

Sayang bangsa kita selalu terlambat dalam mencegah dan menyadari bahaya itu. Manakala timbul korban nyawa manusia baru masyarakat terhenyak tentang bahaya asap ini. Apalagi pemangku pemerintahan setempat terlihat gagap untuk segera menanggulangi kebakaran itu. Penulis tidak ingin berkutat terhadap masalah penyebab dan penanganan masalah kebakaran, tetapi mencoba melihat dari sisi lain akibat asap terhadap anak bangsa, terutama balita.

Kabut asap

Kabut asap adalah campuran komponen hasil pembakaran material organik yang terbakar baik sempurna maupun tidak sempurna. Komponen asap terdiri dari materi partikel dan gas. Komponen partikel dibagi menjadi beberapa. Seperti, pertama 10 g, biasanya tidak sampai ke paru, dapat mengiritasi lapisan lendir hidung dan mata serta kulit. Kedua, partikel kasar (coarsed particles) ukuran 10 g-2,5 g.

Ketiga, partikel halus (fined particles) ukuran kurang dari 2,5 g.

Partikel asap cenderung sangat kecil, halus dan dapat terinhalasi ke dalam paru sehingga lebih berisiko mengganggu kesehatan jika dibandingkan dengan partikel yang lebih besar.

Komponen gas yang ada dalam kabut asap ialah karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), dan aldehid serta beberapa senyawa lain seperti ozon (O3), karbon dioksida dan hidrokarbon.

Dampak asap terhadap kesehatan

Dari komponen gas yang ada dalam kabut asap yang penulis sebutkan, karbon monoksida (CO) beredar melalui aliran darah dan paru. Itu dapat mengurangi pengiriman oksigen ke jaringan tubuh (anoksia) menimbulkan gejala sesak napas, kebingungan, dan dada terasa berat.

Konsentrasi CO pada penduduk tertentu yang terpajan asap api tidak menimbulkan bahaya bermakna kecuali pada individu yang sensitif. Mereka yang memiliki penyakit jantung mengalami nyeri dada dan aritmea. Pada tingkat pajanan lebih tinggi CO dapat menyebabkan sakit kepala, lemah, pusing kebingungan, disorientasi, gangguan penglihatan, koma, dan kematian. Selanjutnya, sulfur dioksida (SO2), gas pedas yang bisa menimbulkan sesak napas, mengi karena bronkokostriksi selanjutnya mengiritasi mukosa pernapasan.

Lalu, nitrogen dioksida (NO2) dikeluarkan selama kebakaran suhu tinggi seperti saat kebakaran badai. Ozon (O3) dapat megiritasi tenggorok, sianida (CN) dihasilkan pembakaran bahan-bahan alami dan sintetik bila kadar laktat tinggi; dapat berguna sebagai indikator di rumah sakit.

Selain itu, hidrokarbon; contohnya as benzena hasil pembakaran bahan organik yang tidak sempurna. Aldehid (akrolin, formaldehid/HCHO) hasil pembakaran bahan organik yang tidak sempurna.

Berikutnya materi partikulat (PM) bisa padat atau cair, dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna dengan ukuran 0,005 m sampai 100 m, dapat menembus saluran napas sampai ke Paru.

Populasi rentan

Dampak buruk asap akan terlihat nyata pada yang rentan, yaitu manula, ibu hamil, mereka yang mempunyai penyakit paru sebelumnya, dan balita.

Pada balita dampak asap terjadi karena secara anatomi usia awal sampai usia delapan tahun terjadi pertumbuhan luas dan fungsi respirasi. Jadi, bila terjadi gangguan asap, itu akan menimbulkan kerusakan struktur anatomi organ napas dan fungsinya yang terjadi secara permanen.

Di samping itu respons pertahanan saluran napas belum terbentuk secara sempurna. Karena itu, rentan terjadinya infeksi yang bisa menyebabkan kematian. Kalau demikian, bagaimana nasib bangsa Indonesia di masa depan apabila aset bangsa berupa balita cerdas tidak diimbangi dengan kualitas kesehatan saluran napas yang prima?


(ADM)