Jelang MEA

Aset Perbankan RI Tertinggal Jauh Dibanding Negara di ASEAN

Suci Sedya Utami    •    Kamis, 05 Nov 2015 07:59 WIB
mea 2015
Aset Perbankan RI Tertinggal Jauh Dibanding Negara di ASEAN
Gubernur BI Agus Martowardojo. (FOTO: MTVN/Eko Nordiansyah)

Metrotvnews, Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengatakan aset yang dimiliki lembaga keuangan, khususnya perbankan Indonesia, masih tertinggal dibanding negara-negara di ASEAN. Padahal, era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah di depan mata, yakni kurang dari dua bulan.

Dalam acara sosialisasi implementasi MEA, Muliaman mengatakan untuk industri perbankan asetnya hanya 55 persen dari PDB, sedangkan negara-negara di ASEAN sudah di atas 100 persen. "Oleh karena itu, kita punya kewajiban mendorong industri keuangan lebih besar lagi," kata Muliaman di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu, 4 November.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengatakan Indonesia bersama negara ASEAN lain telah menyepakati adanya guidance berupa ASEAN Banking Integration Framework dalam menyongsong MEA.

Nantinya, akan ada penyetaraan bagi bank-bank di suatu negara bisa membuka cabang di negara lainnya dengan asas resiprokal dan kesetaraan. Dengan framework ini maka akan membuat pasar semakin besar. Selama ini, Agus menilai bank-bank di ASEA memiliki GAP, banyak bank yang bisa masuk ke negara lain, namun ada juga yang kesulitan.

Dirinya mencontohkan Indonesia dengan Singapura, di mana negeri Singa tersebut memiliki empat bank di Indonesia dengan 2.400 kantor cabang dan 4.800 ATM. Namun, untuk Indonesia, baru memiliki satu kantor dan satu ATM di Singapura.

"Begitu juga dengan Malaysia, ada dua bank mereka di Indonesia dengan 2.100 kantor cabang dan lebih dari 4.000 ATM. Sedangkan Indonesia hanya satu bank syariah dan satu ATM. Di dalam banking integration kita diskusikan supaya seimbang," jelas Agus.


(AHL)