Sosok Teguh Karya di Mata Slamet Rahardjo

Anindya Legia Putri    •    Kamis, 05 Nov 2015 10:20 WIB
slamet rahardjo
Sosok Teguh Karya di Mata Slamet Rahardjo
Slamet Rahardjo (Foto:Metrotvnews.com/Anindya Legia P)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pantas memang jika sosok Teguh Karya dijadikan ikon Festival Film Indonesia 2015. Pasalnya, dari tangan dingin Teguh lahir aktor dan aktris berbakat yang hingga kini diakui masyarakat.

Sebut saja, Slamet Rahardjo. Pria kelahiran Serang, Banten, 21 Januari 1949, ini namanya meroket semenjak bergabung dengan Teater Populer milik Teguh Karya.

Namun, tak sedikit publik yang bertanya-tanya siapakah sosok Teguh Karya sesungguhnya?

"Dia itu orang yang gila kerja. Saya belajar dari beliau bagaimana mencintai pekerjaan. Bagaimana saya serius pada bidang yang saya tekuni. Teguh Karya memiliki nilai. Dia satu-satunya film maker yang kariernya tertata baik, tidak cacat sedikit pun. Beliau memiliki grafiti. Saya grafitinya, Niniek L Karim grafitinya. Malu jika FFI 2015 tidak jelas nantinya, karena kami di sini berkumpul untuk memberikan sebuah penghormatan terhadap karya-karyanya," ujar Slamet membuka perbincangan di Teater Modern, Jakarta, Rabu (4/11/2015).

Bagi Slamet, mendiang Teguh adalah orang yang luar biasa berdedikasi dan produktif dalam membuat film.

"Saya tidak bisa menyaingi dia dalam hal produksi. Luar biasa karena dia selalu memproduksi film setiap bulannya," tutur Slamet.

Berbagai memori antara dirinya dan Teguh diceritakan kembali oleh Slamet. Seperti saat Slamet harus berakting menjadi penderita TBC yang harus berjalan menyusuri Masjid Istiqlal, namun dia sama sekali tidak mendengar kata "cut" dari Teguh yang menyutradarai.

Padahal, saat itu Slamet sudah berjalan jauh. Saat Slamet menoleh, Teguh dan kru lainnya sudah tidak ada.

Tentu hal tersebut membuat Slamet kebingungan karena dia memakai kostum, dan tidak memiliki uang sama sekali. Slamet pun terpaksa berjalan kaki dari Masjid Istiqlal menuju Teater Populer yang berlokasi di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Setiba di teater, Teguh yang saat itu sedang duduk santai menyampaikan alasan mengapa meninggalkan Slamet seorang diri.

"Kamu itu tadi terlihat berpura-pura menjadi penderita TBC. Harusnya, akting itu ya dimainkan dengan kesungguhan hati, dan jadikan itu layaknya sesungguhnya. Hargai profesimu," ujar Teguh menegur, seperti dituturkan ulang oleh Slamet.

Berbekal ilmu dan kemampuan yang didapat dari Teguh, serta pengalaman di industri perfilman Indonesia, Slamet memiliki misi akan melimpahkan semua ilmunya kepada anak didik.

"Saya dengan pengalaman yang cukup selama tiga puluh tahun bertugas, ingin melimpahkan apa yang saya tahu untuk mengembangkan latihan kepada anak muda. Bagi saya, akting adalah kehidupan. Kehidupan adalah buah cinta. Dengan senang hati dan kasih yang mendalam, mari mencintai," papar Slamet.

Teguh Karya yang lahir dengan nama Steve Lim Tjoan Hok, pada 22 September 1937, di Pandeglang, Banten. Teguh terkenal sebagai sosok yang perfeksionis. Dia adalah salah satu sutradara dan penulis naskah terbaik yang pernah dimiliki negeri ini.
(ROS)