Toko Rilisan Musik Redup, Musik Tetap Hidup

Agustinus Shindu Alpito    •    Jumat, 06 Nov 2015 14:39 WIB
industri musik
Toko Rilisan Musik Redup, Musik Tetap Hidup
Ilustrasi. (foto:s3.amazonaws.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pekan ini, netizen diramaikan oleh kabar bahwa toko rilisan musik Disc Tarra akan menutup 40 gerainya.

Komentar-komentar bertebaran di media sosial, tidak sedikit yang mengutarakan kesedihan. Bahkan, menganggap tutupnya toko rilisan musik sebuah hal buruk dan kemunduran di dunia musik.

Menanggapi hal itu, Nikita Dompas dan Bonita merasa ada paradigma yang sudah tidak relevan lagi.

“Buat saya yang jadi masalah bukan tentang penjualan atau distribusi, atau esensi rilisan fisik musik yang hilang. Yang jadi masalah, kita enggak punya tempat orang berjumpa dan berinteraksi soal musik,” kata Nikita dalam diskusi yang digelar oleh Coworking dan Badan Ekonomi Kreatif, di Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2015).

“Musik itu konten yang dijual, selama kontennya bagus dan tepat, mau bentuknya dalam USB atau vinyl, menurut saya tidak jadi masalah. Pada intinya, ada keinginan buat musik yang ada dampak. Kita enggak buat semata-mata karena pengin bikin album untuk dijual di toko A atau toko B. Gue idealis banget tentang kontennya, bukan how we sell it,” lanjut gitaris yang bermain untuk Andien dan band Potret itu.



Hal senada juga diungkapkan oleh penyanyi Bonita dan grup Bonita & The Hus Band. Menurutnya, era digital seharusnya ditanggapi secara positif oleh pelaku industri musik, karena pada saat ini segala kesempatan terbuka lebar, dibanding harus meratapi sistem bisnis musik masa lalu yang perlahan terseok.

“Ini adalah waktu tempat lu bisa mengerjakan apapun sendiri. Enggak susah sekarang. Bahasa 'the end of an era' itu berlebihan. Tengok perkembangan musik sekarang, industri yang dipunyai musisi independen seperti apa,” kata Bonita.

Soal tanggapan tentang tutupnya sejumlah toko rilisan fisik musik dan terseoknya penjualan album fisik yang dimaknai sebagai sinyal buruk di dunia musik, Nikita merasa anggapan itu terlalu berlebihan.

“Gue pernah ngobrol sama pemilik toko musik yang tutup, mereka bilang, ‘Ya memang toko gue tutup, tapi musiknya tetap hidup. Kita hanya tutup secara toko, secara sistem ya berjalan dengan cara yang berbeda.' Yang gue omongin soal sisi sentimentilnya, sedih ya sedih, kayak Efek Rumah Kaca bilang, ‘Kita orang Melayu suka mendayu-dayu.’ Pas misalkan toko musik pelan-pelan mati, ya kita buat media lain yang bisa mengakomodasi kebutuhan kita,” kata Nikita.


(FIT)