TNI dan Polri Bahas Operasi Camar Maleo

Lukman Diah Sari    •    Jumat, 06 Nov 2015 16:09 WIB
tni-polri
TNI dan Polri Bahas Operasi Camar Maleo
Personel Brimob menuju lokasi Operasi Camar Maleo 2 di Poso, Sulawesi Tengah, Sabtu 16 Mei 2015. Antara Foto/Zainuddin MN

Metrotvnews.com, Jakarta: Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Wakapolri Komjen Budi Gunawan membahas kerja sama kedua lembaga. Salah satunya soal operasi Camar Maleo.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Anton Charliyan mengatakan, banyak hal harus dibicarakan Panglima dan Wakapolri. Selain operasi Camar Maleo, kerja sama harus diperkuat dalam rangka pemilihan kepala daerah.

Pertemuan itu dihadiri pejabat tinggi Polri dan Kepala Densus 88. Anton mengatakan, target operasi Camar Maleo menangkap Santoso, pimpinan kelompok teroris.  

"Ada permohonan bantuan kami kepada TNI untuk back-up (operasi Camar Maleo)," kata Anton di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2015).

Operasi Camar Maleo dimulai pada 2012. Polri sempat mengerahkan helikopter untuk mencari Santoso dan anggotanya yang diduga sebanyak 20 orang. Mereka kemungkinan bersembunyi di tempat yang sulit dijangkau dengan transportasi darat.

Santoso adalah teroris yang tergabung dalam Mujahidin Indonesia Timur. Pimpinan MIT selain Santoso ada Sabar Subagyo alias Daeng Koro dan Basri.

Daeng Koro tewas setelah baku tembak dengan Satgas Antiteror di pegunungan Desa Sakina Jaya, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parimo, Sulawesi Tengah, Jumat 3 April.

Polri melansir keterlibatan Daeng Koro dalam aksi terorisme seperti melatih dan membuat pelatihan militer di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.

Dia juga aktor intelektual dalam pembunuhan Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman di Tamanjeka, Poso. Selain itu, ia juga terlibat langsung menembak anggota Brimob di Kalora, Poso.

Daeng juga perakit dan eksekutor bom di Patangolemba, Poso. Pernah juga kontak senjata dengan polisi di Gunung Gayatri, Desa Maranda, Poso. Daeng juga yang menyiapkan senjata untuk MIT.

Daeng adalah penghubung antara MIT dengan kelompok teroris di Makassar dan menggagas penembakan warga di Masani, Poso.

Jumat 21 Agustus, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengkalim pihaknya sudah mengetahui tempat persembunyian kelompok Santoso. Jejak mereka terendus usai baku tembak antara Tim Densus 88 Antiteror dan Brimob Polda Sulawesi Tengah dengan teroris di Poso.

Badrodin mengatakan, hingga 17 Agustus, sudah lima kali baku tembak polisi dengan kelompok Santoso.


(TRK)