Impor 2,4 Juta Ton Jagung, Mentan: Indonesia Hemat Devisa Impor Rp25 Triliun

Achmad Zulfikar Fazli    •    Sabtu, 07 Nov 2015 23:39 WIB
kementan ads
Impor 2,4 Juta Ton Jagung, Mentan: Indonesia Hemat Devisa Impor Rp25 Triliun
Produksi jagung petani dipamerkan di acara Rembug Paripurna KTNA, Boyolali, Jateng, Sabtu (7/11/2015). MTVN/Istimewa.

Metrotvnews.com, Boyolali: Indonesia diharapkan tidak melakukan impor jagung dengan skala besar. Sejauh ini, Indonesia telah mengimpor sebesar 2,4 juta ton jagung untuk kebutuhan industri.

"Impor jangan melebihi 3 juta ton. Sekarang baru sekitar 2 juta ton. Setidaknya dari hasil pengendalian, devisa impor yang bisa dihemat mencapai Rp25 triliun," kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di depan peserta Rembug Paripurna KTNA, Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (7/11/2015).

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) tercatat hingga September 2015, realisasi volume impor jagung bagi kebutuhan indutri pakan sebesar 2,4 juta ton. Padahal, kebutuhan jagung untuk pabrik pakan mencapai 8,5 juta ton per tahunnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani Jagung Indonesia, Sholahuddin Perdana menyayangkan langkah Indonesia yang telah mendatangkan 2,4 juta ton jagung dari negara tetangga. Sebab menurut dia, para petani pun sebenarnya mampu memasok jagung dengan jumlah tersebut. Jika, pemerintah benar-benar serius melindungi para petani jagung.

"Sampai saat ini komoditas jagung belum memiliki harga pokok penjualan yang melindungi petani dari anjloknya harga saat panen raya. Selain itu, impor kerap dilakukan justru di masa panen jagung," ujar dia.

Namun, Sholahuddin mengakui saat ini produksi jagung nasional memang dalam kondisi sulit untuk dapat memenuhi kebutuhan industri. Penyebabnya, lanjut dia, lantaran terkendala cuaca, hama dan penyakit tanaman.

"Sebetulnya kendala tersebut bisa diatasi, jika saja pemerintah segera mengizinkan penggunaan benih jagung biotek yang tahan serangan hama, penyakit serta anomali cuaca dan memiliki hasil panen tinggi," tukas Sholahuddin.

Guru Besar Ekonomi Pertanian, Parulian Hutagaol mejelaskan salah satu cara meningkatkan kesejahteraan petani jagung adalah melakukan intensifikasi pertanian. Petani harus menggunakan benih dengan bioteknologi yang mampu meningkatkan hasil panen dan menurunkan biaya produksi.

"Pemerintah tidak perlu takut mengizinkan penggunaan benih dengan bioteknologi. Karena komoditas jagung dan kedelai yang diimpor dari negara tetangga adalah produk bioteknologi. Jangan biarkan petani kita menjadi penonton di negeri sendiri," tegas Parulian.

Direktur Corporate Engagement Monsanto Indonesia, Herry Kristanto menambahkan industri benih jagung di Indonesia siap mendukung upaya pemerintah dalam mencapai swasembada pangan. Menurut dia, perusahaannya saat ini terus mengembangkan benih-benih jagung unggulan yang tahan terhadap gangguan cuaca, hama serta penyakit tanaman.    

"Kami sedang menyiapkan dua varietas baru benih jagung hibrida DK-771 dan DK-959 yang tahan terhadap kekeringan dan penyakit," kata dia.

Apalagi, dalam dua tahun ke depan, kapasitas terpasang pabrik benih jagung hibrida yang dimiliki perusahaan akan mencapai full capacity atau sebanyak 14.000 ton. Sehingga, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan benih petani jagung di Indonesia.


(AZF)