Ketahuan Bertemu Evy, Rio Capella Buat Skenario

Renatha Swasty    •    Senin, 09 Nov 2015 16:19 WIB
gratifikasi bansos sumut
Ketahuan Bertemu Evy, Rio Capella Buat Skenario
Terdakwa kasus dugaan suap penanganan perkara dugaan korupsi dana bansos Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Patrice Rio Capella menjalani sidang perdana di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (9/11).-Foto: MI/Panca Syurkani

Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan anggota DPR RI Patrice Rio Capella ketakutan saat ketahuan bertemu Evy Susanti, istri Gubernur nonaktif Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan Fransisca Insani Rahesti alias Sisca. Pertemuan membahas komunikasi dengan Jaksa Agung. Agar tidak terendus Rio lantas membuat skenario dengan Sisca.

"Pada tanggal 3 Juni 2015 sepulang dari umroh, terdakwa mendapat teguran dari Surya Paloh. Di mana saat itu Surya Paloh menyesalkan mengapa terdakwa menemui Evy Susanti. Atas peristiwa tersebut, terdakwa menuduh Evy Susanti yang membocorkan pertemuan tersebut yang disampaikan melalui Fransisca Insani Rahesti," ujar Jaksa Yudi Kristiana saat membacakan dakwaan Rio Capella di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (9/11/2015).

Usai tuduhan itu, Sisca datang ke kantor Evy dan mengembalikan uang Rp10 juta. Dalam pertemuan itu pula Sisca meminta supaya Evy membuat pesan yang pada intinya menyatakan bahwa pertemuan antara Rio, Evy dan Sisca di Planet Hollywood Café Hotel Kartika Chandra, Jakarta, tidak pernah terjadi.

Awal Agustus 2015, KPK melakukan pemanggilan saksi terkait Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap anak buah OC Kaligis, M Yagari Bhastara. Sisca takut terseret. Sisca dan Rio lalu melakukan pertemuan di lobi Hotel Kartika Chandra.

"Pada pertemuan tersebut terdakwa mengatakan kepada Fransisca Insani Rahesti ‘Sis paling aman buat kita berdua adalah kita membuat cerita begini: Aku (Rio Capella) tahu ada uang dari ibu Evy Susanti, tetapi aku minta kamu (Sisca) pegang dulu. Jadi sampai sekarang uang itu masih di kamu’," beber Jaksa Yudi.

Sisca ragu dengan skenario yang dibuat Rio. Untuk menepis, Sisca lantas menemui Rio kembali di VIP Room Restoran Dimsum 48, Gondangdia, Jakarta Pusat, pada pertengahan Agustus 2015.

Dalam pertemuan itu Rio kembali meyakinkan Sisca bahwa skenario berhasil dan tidak akan menyeret keduanya. "Terdakwa juga menyampaikan ‘Udah tenang Sis, itu sudah paling benar kalau uangnya tetap di aku, aku kena. Udah kamu tenang. Kemudian terdakwa menyerahkan uang sebesar Rp200 juta kepada Fransisca Insani Rahesti," beber Jaksa Yudi.

Esok harinya, lanjut Jaksa, Sisca masih ragu dengan skenario yang dibuat Rio. Keduanya kembali bertemu di Restoran Kuring, Jalan Teuku Umar. Di sana Sisca mengembalikan lagi uang Rp200 juta yang diserahkan Rio hari sebelumnya.

Untuk memuluskan skenarionya kembali, Rio kemudian mengadakan lagi pertemuan dengan Sisca, Clara Widi Wiken (kakak Sisca) dan Jupanes Karwa (ajudan Rio). Dalam pertemuan itu, Rio memberikan nomor ponsel baru dan menekankan skenario awal.

"Terdakwa juga menekankan terkait masalah uang dari Evy tersebut bermasalah, yaitu apabila Sisca diperiksa KPK, maka Sisca sebaiknya mengatakan bahwa uang dari Evy yang tadinya diserahkan kepada terdakwa kemudian ditolak dan dikembalikan ke Sisca untuk selanjutnya akan dikembalikan ke Evy Susanti," beber Jaksa Yudi.

Untuk memuluskan itu, tanggal 24 Agustus 2015, Jupanes Karwa membawa uang dari Rio sejumlah Rp200 juta pada Clara Widi. Yang kemudian pada 25 Agustus 2015 diserahkan ke KPK oleh Sisca.

Rio sebelumnya didakwa menerima Rp200 juta dari Gatot Pujo Nugroho dan Evy Susanti. Duit diberikan lantaran Rio menjembatani islah antara Gatot dan Wakil Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi.

Mantan politikus PAN dan NasDem itu juga diketahui bertemu Evy dan Sisca dan menyampaikan bakal menjalin komunikasi dengan Jaksa Agung sepulang dari umroh terkait masalah yang dialami Gatot.

"Terdakwa mengetahui bahwa penerimaan uang Rp200 juta adalah untuk mempermudah pengurusan penghentian penyelidikan perkara dugaan tindak pidana korupsi ana Bantuan Sosial (Bansos), Bantuan Daerah Bawaan (DBD), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), tunggakan Dana Bagi Hasil (DBH) dan penyertaan modal pada sejumlah BUMD pada pemerintahan provinsi. Sumut yang ditangani Kejaksaan Agung melalui pendekatan partai berupa islah," ujar Jaksa Yudi.

Rio diacam pidana dalam Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.


(MBM)

KPK Diam-diam Sudah Periksa Ajudan Novanto

KPK Diam-diam Sudah Periksa Ajudan Novanto

2 days Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diam-diam sudah memeriksa ajudan Setya Novanto, AKP Reza Pah…

BERITA LAINNYA