Nasionalisme Melalui Karya Ilmiah

   •    Senin, 09 Nov 2015 16:39 WIB
risetopini
Nasionalisme Melalui Karya Ilmiah
Mahasiswa menunjukkan cara kerja kompor biomass yang berbahan bakar ranting kayu kering dalam Pameran Riset dan Teknologi Inovasi di Gedung Sport Centre UB, Malang, Rabu (21/10) . (Foto: ANTARA)

Ismail Suardi Wekke, Peneliti di Lembaga Persada Papua, Fungsionaris Masika ICMI Papua Barat
 
Berdasarkan data hari ini (9/11), jumlah publikasi masyarakat ilmuwan Indonesia yang dicatat Scimago sebanyak 32.355, berada di urutan 57 dari 239 negara. Sementara nomor satu masih diduduki Amerika Serikat dengan jumlah artikel sebanyak 8.626.193. Jika melihat angka  populasi kita yang berada di urutan keempat, dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, maka angka ini masih sangat memprihatinkan. Dengan penduduk Kanada sekitar 35 juta orang sementara artikel publikasinya mencapai 1.227.380. Artinya jumlah penduduk belum signifikan terhadap sumbangan ilmu pengetahuan.

Saat momentum Hari Pahlawan, saya berada di Kota Surabaya dalam rangkaian Lokakarya Pengelolaan Jurnal di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Airlangga, di mana kota ini menjadi bagian dari perjalanan bangsa kita. Sudut-sudut Kota Surabaya mengingatkan betapa arek-arek Surabaya menjadi salah satu pejuang utama dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jikalau di masa lalu perjuangan itu harus dilakukan dengan fisik, maka sekarang ini salah satu satu tugas anaka-anak bangsa adalah menegakkan harkat dan martabat bangsa di dunia akademik.

Kita tidak saja tertinggal, bahkan tidak terlihat dalam peta global. Ini bukan karena anak-anak bangsa kita adalah orang bodoh dan malas. Mereka tidak diberikan tempat yang layak dan juga tidak berada dalam lingkungan yang mendukung.

Jumlah publikasi yang tersebar di Turki (390.874), Malaysia (200.580), Malaysia ()153.378), termasuk disumbang oleh mahasiswa Indonesia. Begitu pula Amerika dan seantero dunia. Ketika mahasiswa Indonesia berada di kampus-kampus yang memberikan tempat dan ruang untuk berekspresi, selalu saja mereka menjadi bagian dari prestasi dan capaian yang gemilang. Ketika persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan doctor hanya dengan dua artikel di jurnal dengan indeks Scopus, mahasiswa Indonesia ada yang bahkan menyelesaikan sampai 20 artikel bersama dengan pembimbingnya.

Angka publikasi kita yang masih minim bukan karena angka APBN kita yang terlalu kecil. Untuk alokasi di tiga kementerian yang mengurusi pendidikan, Kementerian Agama mendapatkan alokasi Rp57,1 triliun, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kebagian Rp49,2 triliun, dan Kementerian Riset dan Teknologi, dan Pendidikan Tinggi didukung dengan Rp40,6 triliun. Angka-angka ini mestinya berkontribusi bagi riset dan juga publikasi. Salah satu peringatan saya kepada para kolega di perguruan tinggi, “Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya kepada para dosen yang mendapatkan dana hibah penelitian tentang jumlah laporan penelitian yang belum dipublikasi”. Dalam ijtihad saya, ini merupakan bagian dari dosa besar jikalau mendapatkan dana hibah penelitian tetapi berhenti hanya sampai laporan saja.

Ada dua agenda yang harus menjadi perhatian seluruh komponen bangsa. Pertama, birokrasi penelitian yang tidak rumit. Dana penelitian biasanya baru bisa dikucurkan bulan Juni tahun berjalan. Sementara laporan penelitian harus disampaikan bulan November. Ini berarti hanya ada enam bulan rentang waktu penyelesaian penelitian. Jikalau itu sebuah penelitian yang berkualitas dengan memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan, maka kesempatan meneliti hanya dengan enam bulan bukanlah waktu yang tepat. Sementara laporan penelitian tidak saja disampaikan dalam bentuk laporan tetapi juga persoalan pada administrasi penelitian yang juga memerlukan perhatian khusus. Untuk itu, penelitian mestinya diatur dengan rentang waktu yang lebih lama dengan dana yang juga lebih besar. Sementara persoalan administrasi harus dibuat secara sederhana.

Kedua, semua laporan penelitian harus dilengkapi dengan naskah publikasi. Mulai dari skripsi, tesis, disertasi, sampai laporan penelitian, semuanya harus ditambahkan dengan artikel yang dipublikasikan di jurnal. Pengalaman di Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung, setiap laporan penelitian harus ditambahkan dengan artikel penelitian untuk jurnal nasional, bab dalam buku ajar, dan rencana tindak lanjut untuk pengabdian masyarakat. Berarti setiap penelitian menghasilkan empat luaran. Ini sebuah praktik dengan birokrasi yang sama dengan kondisi seluruh perguruan tinggi Indonesia tetapi mampu melakukan kesepakatan dan kebijakan pimpinan untuk mendorong produktivitas ilmiah.

Akhirnya, momentum Hari Pahlawan perlu diperingati salah satunya dengan mengenang perjuangan para pahlawan kita untuk mempertahankan kemerdekaan. Sementara itu, tugas seluruh komponen bangsa untuk memperjuangkan sumbangsih ilmuwan kita agar dapat sejajar dengan bangsa lain. Karya ilmiah yang kredibel, akan mendorong banyak capaian yang lain, di antaranya paten, inovasi teknologi, dan juga kesejahteraan bersama.


(JRI)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

6 days Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA