Monumen Perjuangan, Potret Usang di Sudut Kenangan

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 10 Nov 2015 17:42 WIB
hari pahlawan
Monumen Perjuangan, Potret Usang di Sudut Kenangan
Monumen perjuangan di Dusun Bodeh, Ambarketawang, Gamping, Sleman, DIY. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Bak potret usang yang teronggok di sudut kenangan. Demikianlah nasib sejumlah penanda kepahlawanan berupa monumen di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saat Metrotvnews.com bertandang ke Monumen Perjuangan Taruna di Desa Plataran, Selomartani, Kalasan, Sleman, Selasa 10 November. Monumen ini menjadi penanda lokasi para pasukan pejuang tewas berkalang tanah.

Di salah satu sudut tembok monumen, terdapat penjelasan jika lokasi itu menjadi tempat perjuangan taruna akademi militer pada Agresi Militer Belanda 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949. Setidaknya, 42 nama taruna yang gugur tercatat di monumen itu.

Monumen Perjuangan Taruna di Desa Plataran, Selomartani, Kalasan, Sleman, DIY. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Monumen Perjuangan Taruna di Desa Plataran, Selomartani, Kalasan, Sleman, DIY. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)
Kondisi monumen ini memang cukup rapi. Cat tembok dan pelataran dekat patung terlihat masih bersih. Namun, di sejumlah sudut masih terlihat daun dan dahan pohon berserakan. Selain itu, dua gapura kecil di kanan-kiri pintu masuk tampak bekas jemuran daun tembakau milik warga sekitar.

Pun demikian dengan kondisi monumen Perjuangan Tentara Pelajar di Rejodani, Sariharjo, Ngaglik Sleman. Monumen ini menyimpan peristiwa saat Tentara Pelajar mengadang rombongan pasukan Belanda pada 29 Mei 1949.

Kondisi monumen yang menjadi saksi perjuangan Tentara Pelajar itu jauh lebih memprihatinkan. Lantai di monumen ini ditumbuhi rerumputan di kanan-kirinya.

Di monumen lainnya, pemandangan lebih miris ditemui. Pada sebuah plakat sebagai tanda monumen yang diresmikan Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam VIII di sebuah monumen di Gamping, Sleman, berserak sampah plastik dan bekas kotak makanan. Rumput di sekitar lokasi monumen hampir setinggi lutut orang dewasa.

Sementara itu, di sisi barat bagunan yang bergambar bambu runcing, senapan, helm baja, dan bintang, justru tertimpa pohon. Tanda perjuangan itu.

Padahal, monumen yang terletak di Dusun Bodeh, Ambarketawang, Gamping, Sleman ini jadi saksi perlawanan pejuang Indonesia saat menghadapi Belanda di tahun 1949. Dulu, di tempat ini, para pejuang dihujani mortir dan tembakan oleh sekutu dari berbagai arah. Akibatnya, 41 orang tewas, termasuk anak-anak.

Kepala Seksi Museum dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Yogyakarta, Juhartatik mengaku tak bisa berbuat banyak. Menurutnya, kebersihan tempat bersejarah itu sudah dipasrahkan kepada warga sekitar sekitar seminggu sekali dengan imbalan uang lelah.

"Anggaran tahun ini memang tidak banyak. Tujuan menunjuk masyarakat untuk membersihkan agar bisa mengedukasi dan menimbulkan kepedulian terhadap tempat bersejarah," ujarnya.

Setidaknya, ada 33 monumen yang menjadi saksi perjuangan di Kabupaten Sleman. Juhartatik malah mengaku baru memperoleh info sejumlah monumen cukup tak terurus itu. "Kita berharap ada laporan seperti itu. Kita tidak menjangkau sampai daerah sana," ucapnya.


(SAN)