Golkar Klaim Tetap Kuasai Banten pada 2014

   •    Senin, 21 Oct 2013 14:19 WIB
Golkar Klaim Tetap Kuasai Banten pada 2014
Sharif Cicip Sutardjo--ANTARA/Ujang Zaelani/bb

Metrotvnews.com, Jakarta: Perolehan suara Partai Golkar di Banten berpotensi tergerus akibat kadernya yang berasal dari keluarga besar Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah tersangkut kasus korupsi. Namun, Golkar mengklaim tetap menguasai provinsi paling barat di Pulau Jawa Tersebut.

"Itu tidak terlalu mengkhawatirkan. Karena Golkar punya brand image yang bagus di Banten," sebut Ketua Badan Pemenangan Pemilu Golkar Sharief Cicip Sutardjo di Jakarta, Senin (21/10).

Cicip bahkan optimistis Banten akan tetap dikuasai Partai Golkar dalam Pemilu 2014 mendatang. Ia tidak melihat ada korelasi tercorengnya nama besar Ratu Atut dalam skandal korupsi dan penyuapan Ketua Mahkamah Konstitusi nonaktif Akil Mochtar.

Namun, lanjutnya, bukan berarti Golkar akan berpangku tangan. Cicip mengakui sudah membuat rencana cadangan dengan menerjunkan para caleg ke kantong-kantong massa secara langsung.

"Sekarang justru waktunya adalah mesin partai berjalan, caleg-caleg kita juga sudah turun semuanya, jadi kita tidak ada kevakuman dalam operasional sekarang. Dengan begitu maka akan menutupi berita-berita (Atut) secara nasional dan sebagainya karena mereka sudah langsung bertemu, kontak dengan masyarakat ini sudah berjalan," ucap Cicip yang juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini.

Seperti diketahui, dinasti politik dari keluarga Ratu Atut di Banten sedang mengalami guncangan. Adik Atut, Tubagus Chaery Wardhana, menjadi tersangka dalam kasus penyuapan Pemilu Kada Lebak Banten. Bahkan nama Atut sendiri terseret dalam perkara tersebut. Beragam demonstrasi pun mendesak agar Atut dicopot.

Dinasti politik Ratu Atut merupakan yang paling kuat karena menguasai pemerintahan di Banten. Keluarga Ratu Atut juga menjadi salah satu vote getter terbesar Golkar di Banten. Beberapa pihak menilai dengan mencuatnya kasus dugaan korupsi dan penyuapan terhadap keluarga Ratu Atut akan memengaruhi perolehan suara Golkar di 2014. (Fidel Ali Permana)