Begini Cara PT NOEI Hasilkan Listrik dari Sampah

Damar Iradat    •    Selasa, 10 Nov 2015 22:35 WIB
sampah jakarta
Begini Cara PT NOEI Hasilkan Listrik dari Sampah
Pekerja memeriksa mesin Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. (Foto:MI/Rommy)

Metrotvnews.com, Bekasi: PT Godang Tua Jaya joint operation (JO) PT Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI) mengelola sampah dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk dijadikan bahan lain yang lebih berguna. Salah satu yang dikembangkan oleh PT NOEI yakni Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Salah satu supervisor PT NOEI di lapangan, Riki Gunawan membeberkan bagaimana PT NOEI mengembangkan sampah agar menjadi tenaga listrik. Menurutnya, sampah yang digunakan tidak perlu dihitung berapa tonasenya.

"Enggak pakai hitung-hitungan ton. Asal ada sampah saja bisa kita kembangkan," kata Riki saat ditemui di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Selasa (10/11/2015).

Sampah yang masuk ke TPST Bantar Gebang saat ini rata-rata per harinya berkisar di angka 6.500 ton. Dari situ, sampah akan ditumpuk terlebih dahulu hingga membusuk.

PT NOEI memilih sampah-sampah rumah tangga dan pasar untuk memproduksi gas methane. Alasannya, sampah pasar dan rumah tangga lebih cepat membusuk dan memproduksi gas methane yang lebih bagus, daripada sampah lainnya.

Untuk sistem pengambilan gas, PT NOEI menggunakan dua cara. Pertama, cara vertikal yang menggunakan sumur. Zona sampah yang dipakai terlebih dulu akan dilakukan pengeboran sedalam 15 meter.

"Zona dibor dengan kedalaman 15 meter. Setelah itu dimasukin pipa. Pipanya juga dibagi lagi, kalau yang 12 meter pipa velporet, bolong-bolong, sisanya 3 meter polos," paparnya.

Setelah itu, air sampah yang berada di sumur dimasukan ke dalam pompa air. Pompa yang digunakan bernama pompa fenometik, pompa tersebut memiliki daya sedot dalam satu menit hingga puluhan liter. Setelah dipompa, selanjutnya, air sampah dikuras, dan gasnya ditarik.

Air sampah menurut Riki memang perlu ditarik. Pasalnya, gas tidak akan masuk ke dalam pipa, jika di dalam sumur terdapat banyak air sampah.

Sementara itu, sistem horizontal dengan membelah zona. Zona tersebut awalnya akan dibelah terlebih dulu menggunakan alat berat, gunanya membuat galian agar posisinya miring ke depan.

"Nanti pipa dipasang tidur, habis itu kita tarik gasnya. Untuk sistem ini enggak butuh pompa karena airnya turun sendiri," tukas dia.

Proses berikutnya, gas yang dihasilkan di zona akan ditarik menggunakan blower. Gas juga akan didinginkan terlebih dulu di chiller sebelum masuk mesin pembangkit listrik.

"Kondisi gas harus dingin sebelum masuk engine. Dari situ baru hasilkan listrik," kata dia.

Seperti diketahui, PT GTJ JO PT NOEI menggunakan teknologi sanitary landfill dengan metode Gassifikasi Landfill – Anaerobic Digestion (GALFAD) untuk menghasilkan tenaga listrik. Gas methane dari sampah organik dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

Sementara sampah anorganik diolah dengan teknologi gassifikasi. Saat ini, pembangkit listrik tenaga sampah Bantar Gebang baru mampu memproduksi listrik sebesar 16,5 MW. Pada tahun 2023, ditargerkan kapasitasnya penuh 26 MW. Untuk mencapai target itu, saat ini telah dibangun gas engine, fuel skid, flare stack, dan trafo.


(ALB)

Aset Novanto Terancam Disita KPK

Aset Novanto Terancam Disita KPK

10 hours Ago

Penyitaan dilakukan untuk membayar sisa uang pengganti kerugian negara atas korupsi KTP-el, yan…

BERITA LAINNYA