Lima Poin Kerja Sama Bidang Pariwisata Indonesia-Italia

   •    Rabu, 11 Nov 2015 21:56 WIB
pariwisata indonesia
Lima Poin Kerja Sama Bidang Pariwisata Indonesia-Italia
Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Republik Italia Sergio Mattarella (kiri) saat kunjungan kehormatan di Istana Merdeka. Pertemuan menghasilkan kerja sama senilai USD1,055 miliar/Ant_Yudhi Mahatma

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Pariwisata menindaklanjuti nota kesepakatan (MoU) Italia dan Indonesia di bidang budaya dan pariwisata. Di antaranya terkait investasi di sektor pariwisata.

"Kita sangat terbuka. Kita punya 10 destinasi unggulan yang harus diramaikan dengan investor baru. Selain 3 greater Bali-Jakarta-Batam, kita juga punya 25 area yang hendak dibangun sebagai kawasan strategis pariwisata dan kawasan ekonomi khusus pariwisata," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, Rabu (11/11/2015).

Penandatanganan kerjasama itu dilakukan Menteri Pariwisata Arief Yahya dengan Menteri Warisan dan Aktivitas Budaya dan Pariwisata Italia, Federica Guidi. Pertukaran dokumen kerjasama itu disaksikan Presiden Joko Widodo bersama Presiden Republik Italia Sergio Mattarella. Italia dan Indonesia menyepakati kerja sama di bidang bebas visa untuk pemegang paspor diplomatik dan paspor dinas, kerja sama di bidang budaya dan pariwisata, serta kerja sama investasi dengan nilai total kontrak USD1,055 miliar.

MoU yang ditandatangi Menpar kedua negara itu tak hanya menegaskan kemitraan secara tertulis, tapi juga bermakna strategis. Menurut Arief, pariwisata harus cepat menangkap peluang ini dan segera merealisasikan kerjasama ini.

"Ada lima poin di MoU Indonesia-Italia itu. Kami akan segera tidaklanjuti di level teknis,” ujar dia.

Pertama, kerjasama di bidang pemasaran dan promosi pariwisata, di forum pameran internasional kedua negara. Peningkatan perjalanan kedua negara secara perseorangan atau grup, kerjasama meeting incentives conferences and expo (MICE).

"Baik Italia maupun Indonesia, sama-sama gencar dalam promosi dan pemasaran. Jadi bisa dicari konektivitasnya,” imbuh dia.

Kedua, kerjasama pengembangan produk, riset, kajian, dan promosi bersama, baik destinasi konvensional maupun nonkonvensional. Tukar pengalaman, bagi informasi, kunjungan pengkajian dan perbandingan itu menjadi penting. Italia puya banyak obyek heritage, sisa-sisa kejayaan zaman Romawi yang paling berkuasa di Eropa kala itu. Artefaknya juga tersebar di banyak kota, seperti Colosseum, Menara Pisa, Kota Air Venezia, berbagai arsitektural Roma, patung-patung peninggalan Michael Angelo, Pablo Picaso, dan lainnya.

Di ibu kota Italia, Roma, juga ada negara kecil, Vatikan, yang menjadi kiblat bagi umat Katholik di seluruh dunia. Jutaan wisatawan multietnis, multicultural, multireligi datang ke sana setiap tahunnya.

Sementara Indonesia punya artefak Borobudur, sejarah Majapahit dan Sriwijaya, jejak-jejak Laksamana Cheng Ho, yang semuanya berada di pesisir Bahari. “Memang semuanya belum tergarap optimal, belum efektif mendatangkan wisman. Tapi potensi Wonderful Indonesia itu tidak bisa dibendung, sangat besar. PRnya adalah mengolah dan mempromosikan dengan baik,” kata dia.

"Sejumlah 45 persen tertarik di eco-wisata, eco-turism, wisata alam. Lalu 35 persen wisata bahari atau marine tourism, dengan objek utama pantai, pasir, langit, bawah laut, pulau, dan keindahan di sekelilingnya. Sisanya, 20 persen adalah wisata petualangan, seperti trekking, hiking, climbing, naik gunung, offroad, trabas, dengan obyek alam tropis,” lanjut dia.

Ketiga, kerjasama informasi dan publikasi, pertukaran bahan brosur, bahan pameran, film, foto di bidang pariwisata. Keempat, pengembangan SDM. Kelima, mendukung kerjasama antarindustri pariwisata dari kedua negara. Nota kesepahaman itu akan menjadi payung bagi kedua kementerian pariwisata untuk menindaklanjuti ke level teknis.


(TTD)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA