Drama dan Aroma Konspirasi di MotoGP 2015

Achmad Firdaus    •    Kamis, 12 Nov 2015 19:31 WIB
motogpmotogp 2015
Drama dan Aroma Konspirasi di MotoGP 2015
Momen persaingan Jorge Lorenzo, Valentino Rossi, dan Marc Marquez di Sirkuit Sepang, Malaysia (Foto: REUTERS/Olivia Harris)

PERHELATAN MotoGP 2015 mencapai klimaksnya di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol, 8 November silam. Pembalap Movistar Yamaha, Jorge Lorenzo akhirnya keluar sebagai juara dunia 2015.

Lorenzo dinobatkan juara dunia musim ini karena mengoleksi poin terbanyak. Dari 18 seri yang digelar, pembalap 28 tahun tersebut sukses mengoleksi 330 poin dari total tujuh kemenangan yang diraihnya. Lorenzo unggul lima angka dari rival yang juga rekan setimnya, Valentino Rossi yang berada di posisi dua dengan koleksi empat kemenangan.

Secara keseluruhan, kompetisi musim ini berjalan cukup menarik. Hampir tiap seri selalu menyuguhkan persaingan yang mendebarkan. Valentino Rossi, Marc Marquez, dan Jorge Lorenzo jadi aktor utama dalam persaingan musim ini.

Lorenzo yang sempat tampil buruk di awal-awal, mampu bangkit hingga keluar sebagai juara. Marquez, yang tampil inkonsisten, harus terlempar dari persaingan lantaran kerap gagal menyelesaikan balapan.

Sementara itu, Rossi yang tampil paling konsisten dan tidak pernah terlempar dari lima besar di tiap serinya, harus gigit jari gagal merebut trofi juara dunia ke-10.

Momen dramatis pun tak jarang terjadi di musim ini. Bahkan, saking dramatisnya, gelar juara dunia yang diraih Lorenzo jadi polemik. Sportivitas dari individu pembalap dipertanyakan.

Valentino Rossi tampil sebagai whistleblower. Pembalap kawakan Italia itu mencium aroma konspirasi yang dilakukan Marc Marquez dan Jorge Lorenzo.

Tudingan tersebut pertama kali dilontarkan The Doctor usai balapan di Phillip Island, Australia, di mana saat itu Rossi dan Lorenzo tengah bersaing ketat untuk memperebutkan gelar juara dunia. Sementara Marquez sudah terlempar dari persaingan.

Rossi menilai, Marquez mulai melupakan nilai-nilai sportivitas lantaran menunjukkan gelagat ingin menjegalnya dan membantu Lorenzo tampil sebagai juara dunia. Gelagat itu dilihatnya saat balapan, di mana ia mendapatkan perlawanan sengit dari Marquez.

Tudingan Rossi terbukti tatkala ia kembali mendapatkan perlawanan sengit dari Marquez pada seri berikutnya di GP Malaysia. Marquez yang sempat memimpin balapan, dengan mudahnya memberikan ruang bagi Lorenzo untuk menyalipnya.

Sementara itu, hal sama tidak diterima Rossi. Pembalap muda Spanyol tersebut malah memberikan perlawanan sengit, hingga membuat Rossi naik pitam dan terjadilah insiden senggolan yang menyebabkan Marquez terjatuh.

Motif dendam jadi alibi Rossi. Dia merasa, Marquez masih menyimpan dendam lantaran kalah darinya pada dua seri sebelumnya (di GP Argentina dan Belanda). Di dua seri tersebut, Rossi dan Marquez memang sempat terlibat kontak.

Rossi harus membayar mahal insiden tersebut. Peluang juaranya menjadi sangat tipis lantaran ia dinyatakan bersalah sehingga mendapat penalti tiga poin yang membuatnya harus start dari posisi buncit di seri pamungkas, MotoGP Valencia.

Klimaks drama musim ini terjadi di Valencia. Perjuangan Rossi dari posisi buncit hingga akhirnya finis di urutan empat pun sia-sia lantaran Lorenzo sukses memenangi balapan.

Isu konspirasi kembali diembuskan Rossi usai balapan. Ia menuding Marquez tampil s etengah hati. Tudingan Rossi cukup beralasan. Pasalnya, dari awal hingga akhir lomba, Marquez yang berada di belakang Lorenzo sama sekali tidak melakukan manuver untuk menyalip kompatriotnya itu. Bahkan, pada satu momen di akhir-akhir balapan, Marquez justru sibuk memblok rekan setimnya, Dani Pedrosa yang coba memenangi balapan.

Menilik apa yang terjadi di tiga balapan terakhir, Rossi memang tidak bisa disalahkan apabila menuding ada konspirasi antara Lorenzo dan Marquez. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tidak memiliki bukti yang kuat untuk membuktikan tudingannya tersebut. Biarlah konspirasi itu jadi misteri.

Lika-liku perjalanan musim ini yang penuh drama dan aroma konspirasi ini tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi otoritas MotoGP, yakni FIM dan Dorna Sport selaku operator balapan. Mereka harus menemukan formula atau regulasi yang tepat agar kontroversi ini tidak kembali terjadi di masa depan.

Sementara bagi Rossi, yang bisa dilakukannya sekarang adalah melupakan segala kekecewaan yang dialaminya musim ini dan mengubahnya menjadi motivasi yang lebih besar untuk bisa tampil lebih apik lagi di MotoGP 2016.


(ACF)