Wong Chi Ping Divonis Mati

BNN Puas dengan Putusan Hakim di PN Jakbar

Ilham wibowo    •    Jumat, 13 Nov 2015 19:16 WIB
wong chi ping
BNN Puas dengan Putusan Hakim di PN Jakbar
Kepala Humas BNN Kombes Pol Slamet Pribadi--Metrotvnews.com/Ilham Wibowo

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat selesai menyidangkan kasus penyelundupan 862 kilogram (kg) narkoba jenis sabu. Dua dari sembilan terdakwa akhirnya divonis hukuman mati.

Dua orang yang dijatuhi hukuman mati ini warga negara asal Tiongkok Wong Chi Ping alias Surya Wijaya. Wong terbukti sebagai bos kejahatan, dan Ahmad Salim Wijaya sebagai pembuka jalur transaksi sabu sekaligus nakhoda pembawa narkoba.

Sementara tujuh terdakwa lainya mendapatkan hukuman beragam di antaranya, Sujardi divonis 20 tahun, Andika 15 tahun, Cheung Hon Ming 20 tahun, Syarifuddin 18 tahun. Sedangkan Tan See Ting, Siu Cheuk Fung, dan Tam Siu Liung divonis hukuman seumur hidup.

BNN mengaku bersyukur bos besar jaringan narkoba ini akhirnya dijatuhi hukuman mati. Sebab, pihaknya sudah lama melakukan penyelidikan dan pengungkapan kasus ini merupakan yang terbesar se-Asia pasifik dalam kurun lima tahun terakhir.

"Dari sembilan terdakwa, dua orang diputus mati. Tentu BNN tidak bisa berharap banyak karena keputusan kehakiman mutlak," ucap Kabag Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Besar Slamet Pribadi, di Gedung PB Jakarta Barat, Jumat (13/11/2015).

Menurut Slamet, Wong Chi Ping jelas terbukti bersalah dengan barang bukti narkotika jenis sabu yang melekat pada dirinya. Wong Chi Ping dan jaringannya, lanjut Selamet, sudah mempunyai niat untuk mengedarkan barang haram tersebut.

"Seluruh pengungkapan narkoba dimanapun belum sampai pada korbannya. Ia tertangkap tangan, artinya niat sudah ada untuk mengedarkan barang. Jika tidak mempunyai niat, tidak mungkin sampai ke Indonesia. Faktanya kepolisian dari Tiongkok juga menggali kasus Wong Chi Ping Ini," papar Slamet.

Slamet membantah perkataan dari Kuasa Hukum Wong Chi Ping yang menyebut Wong Chi Ping bukanlah gembong atau bandar narkoba, tapi hanyalah fasilitator dari gembong sebenarnya yang berada di Tiongkok. Dalih tersebut, dikatakan Selamet, hanyalah sebuah persepsi.

"Apakah harus ada korban dulu baru pelaku bersalah? Kemudian dengan barang bukti sebanyak itu (862 kg narkotika jenis sabu). Kelewatan jika tidak disebut gembong atau bandar. Tapi ya terserahlah masing-masing punya persepsi," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Barat, Reda Mantovani menegaskan pihaknya akan melakukan banding bagi terdakwa yang lolos dari vonis maksimal. Sebab, mengingat semua terdakwa komplotan Wong Chi Ping dituntut mati Jaksa Penuntut Umum.

"Untuk yang tidak dihukum mati, kita akan banding. Kita tetap menuntut semuanya untuk dihukum maksimal," pungkas dia.


(YDH)