Kerja Bakti, Warga Bantaran Ciliwung Ingin Patahkan Tudingan Ahok

Damar Iradat    •    Minggu, 15 Nov 2015 14:40 WIB
banjir jakarta
Kerja Bakti, Warga Bantaran Ciliwung Ingin Patahkan Tudingan Ahok
Kerja bakti warga bantaran Ciliwung. MTVN/Damar Iradat

Metrotvnews.com, Jakarta: Sudah hampir satu bulan warga di sekitar bantaran Kali Ciliwung Ancol, Jalan Krapu, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, berbenah. Mereka giat bekerja bakti terlebih Gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama alias Ahok kerap penyebut warga bantara Ciliwung biang kerok kebanjiran.

"Karena yang istilahnya versi dari Ahok yang sudutkan warga sebagai penyebab banjir, kita buktikan di sini. Warga sekarang semaksimal mungkin biar enggak kena banjir lagi," kata Jumaing, 51, warga Jalan Krapu, RT 008/RW 001, Jakarta Utara, Minggu (15/11/2015).

Pantauan Metrotvnews.com, para warga sudah sibuk sedari pagi hari. Ada yang tengah membersihkan saluran air, memapas rumahnya, dan beberapa warga juga membersihkan kali Ciliwung Ancol. "Sudah dari sebulan lalu kita kerja bakti terus setiap minggu, biar enggak kena banjir," jelas Jumaing.

Kegiatan kerja bakti tersebut meliputi membersihkan saluran air agar tidak mampet, dan penataan kembali rumah-rumah warga yang sebelumnya melebihi saluran air. Mereka juga membuat rakit guna membantu warga membersihkan Kali Ciliwung, Ancol.

"Minggu lalu kita luncurkan rakit. Ini hasil swadaya masarakat juga. Sempat undang Pak Camat dan Lurah juga pas peluncuran," jelasnya.

Rakit tersebut, jelas Jumaing merupakan hasil dari urunan warga sebesar Rp15 ribu per kepala keluarga. Saat ini, mereka telah membuat tiga yang disebar di tiga titik, yakni RT 004, 007, dan 008.

Soal penataan rumah warga, mereka diinstruksikan untuk memapas rumahnya hingga berjarak 15 meter dari bantaran kali. Padahal, sebelumnya hanya 5 meter jarak dari bantaran.

Hal tersebut cukup merugikan beberapa warga yang sudah memapas pekarangan rumahnya. Terhitung, uang sekitar Rp15 hingga 20 jutaan sudah habis untuk memapas satu rumah.

"Ternyata waktu itu infonya terlambat. Pertama emang dikasih tahunya suruh mapas sampai 5 meter aja dari bantaran kali, enggak tahunya harus 15 meter," ujar Jumaing.


(OGI)