Memutus Spiral Kekerasan

   •    Senin, 16 Nov 2015 07:27 WIB
Memutus Spiral Kekerasan

PENYERANGAN di Paris, Jumat (13/11)  malam, telah berubah menjadi teror. Penyerangan di ibu kota Prancis itu telah memproduksi ketakutan tak tertarakan, bukan hanya bagi warga Prancis dan Eropa, melainkan juga bagi warga dunia.

Bayangkan, penyerangan terjadi di sejumlah ruang publik secara bersamaan. Itu artinya penyerangan semacam itu bisa terjadi kapan pun di ruang publik mana pun di negara mana saja.

Kita mendorong semua negara, termasuk Indonesia, meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi untuk meredam ketakutan publik. Negara wajib memberi rasa aman kepada warganya.

Penyerangan di Paris juga menggambarkan betapa kekerasan seperti sudah menjadi tabiat manusia ketika menghadapi persoalan. Kekerasan seolah obat mujarab yang bisa menyelesaikan berbagai persoalan. Padahal, kekerasan hanya akan memproduksi kekerasan berikutnya. Kekerasan berikutnya akan mendatangkan kekerasan berikutnya lagi.

Begitu seterusnya sehingga terciptalah spiral kekerasan. Spiral kekerasan itulah yang justru kita khawatirkan terjadi pascapenyerangan di Paris yang menewaskan lebih dari 120 orang itu.

Para penyerang yang diduga berasal dari kelompok Islamic State itu tentu mengklaim serangan yang mereka lakukan ialah balasan atas kekerasan dan ketidakadilan yang ditimpakan kepada kelompok mereka oleh Barat.

Prancis telah meminta dukungan dari negara-negara lain untuk mengejar dan mengungkap aktor di balik serangan itu. Negara pasti menggunakan kekerasan ketika mengejar pelaku.

Kita hendak mengingatkan negara-negara Eropa atau Barat serta negara lainnya untuk tidak berlebihan menggunakan kekerasan dalam upayanya mengungkap aktor di balik penyerangan itu. Kekerasan melampaui batas oleh negara hanya akan melahirkan dendam dan kekerasan berikutnya.

Kita juga mengkhawatirkan balasan atas kekerasan di Paris datang dari warga sipil. Kekerasan oleh warga sipil bisa berupa penyerangan fisik dan kekerasan psikologis, misalnya, melancarkan ujaran kebencian atau menabalkan stigma negatif terhadap kelompok tertentu.

Ini bisa memicu pecahnya konflik horizontal antarwarga sipil. Kita sungguh berharap warga dunia untuk menahan diri dan memercayakan penanganan penyerangan Paris kepada aparat berwenang agar kekerasan horizontal tidak terjadi.

Namun, lebih dari sekadar mengungkap pelaku, kita mendorong para pemimpin dunia bekerja sama memutus spiral kekerasan. Spiral kekerasan sesungguhnya terbentuk dari berkelindannya tiga faktor, yakni ketidakadilan, kekerasan sipil, serta represi negara.

Ketidakadilan boleh jadi menjadi alasan bagi warga untuk melakukan kekerasan melalui pemberontakan sipil. Negara dengan kewenangannya mengambil langkah represif untuk menumpas pemberontakan sipil.

Betul bahwa metode kekerasan, sekalipun untuk tujuan paling mulia, tidak bisa diterima akal sehat manusia beradab. Namun, kita juga tak boleh menutup mata bahwa ketidakadilan sering kali menjadi pangkal kekerasan. Kita menuntut pemimpin dunia untuk menciptakan keadilan.

Para pemimpin dunia, termasuk Presiden Jokowi, telah mengutuk penyerangan di Paris. Namun, kutukan paling keras sekalipun tak akan menjamin kekerasan berikutnya tak bakal terulang, tanpa ikhtiar sungguh-sungguh dari para pemimpin dunia untuk mewujudkan keadilan bagi semua.
(DFS)