Rupiah, The Fed, dan Teror Finansial

   •    Rabu, 18 Nov 2015 15:57 WIB
rupiah
Rupiah, The Fed, dan Teror Finansial
Petugas menghitung pecahan Dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Ronny P Sasmita, Analis Ekonomi Politik Internasional Financeroll Indonesia


RUPIAH tersungkur di transaksi awal pekan. Serangan teroris di Paris, Prancis, menambah daftar gaduh di pasar. Dan seperti biasa, imbasnya para pemodal pun kasak-kusuk cari aman. Salah satu caranya ialah dengan segera beralih ke instrumen investasi yang aman atau memindahkan aset ke mata uang yang berotot kekar seperti dolar Amerika Serikat atau yen Jepang. Hasilnya, mata uang rival dolar atau selain dolar dan yen mendadak terkapar, termasuk rupiah dan mata uang Asia lainnya.

Di pasar spot Senin, valuasi rupiah terbukti tertekan 0,47% ke level Rp13.749 per dolar AS. Sejurus dengan itu, kurs tengah Bank Indonesia pun ikut menyusut 0,72% ke level Rp 13.732 per dolar AS. Tak bisa dimungkiri, pelemahan rupiah memang dipicu aksi teror di Prancis dan data inflasi serta data penjualan ritel Amerika pada Jumat (13/11) lalu.

Keadaan semakin diperburuk aksi serangan udara balasan dari Prancis ke pusat ISIS di Raqqa, Suriah, yang berimbas pada meningkatnya kekhawatiran atas gangguan pasokan minyak dunia di satu sisi dan semakin tak menentunya kondisi Timur Tengah di sisi yang lain. Kondisi seperti ini dianggap memenuhi syarat oleh para pemilik modal untuk tanpa ragu-ragu memindahkan aset ke instrumen-instrumen investasi yang berkategori aman.

Bahkan neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2015 yang masih tercatat surplus ternyata gagal mengerek rupiah. Menjelang akhir sesi perdagangan Jumat lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan untuk Oktober 2015 tercatat surplus US$1,01 miliar sehingga secara year to date, Januari-Oktober 2015, surplus perdagangan sudah menduduki angka US$8,16 miliar. Namun, secara spesifik surplus terjadi bukan karena peningkatan volume perdagangan, tapi karena penurunan angka impor yang ternyata cukup dalam alias bukan karena kondisi ekspor yang membaik.

Sudah hampir bisa dipastikan, kondisi surplus yang agak kurang membahagiakan ini akan mendorong BI untuk tetap mempertahankan suku bunga di level 7,5%. Artinya, pemangkasan suku bunga yang semula diharapkan akan mampu menambah oli pertumbuhan belum bisa dihadirkan dalam waktu dekat karena alasan ekonomi yang ternyata juga tak bisa diandalkan saat ini.

Justru dalam kondisi yang kian tak pasti, termasuk gonjang-ganjing rencana kenaikan tingkat suku bunga The Fed, kebijakan memangkas suku bunga akan menjadi kebijakan yang berbahaya serta penuh risiko karena BI dipastikan akan fokus pada pengaruh eksternal yang akan memengaruhi pergerakan rupiah di satu sisi dan ancaman peralihan dana investor di sisi yang lain.

Bagaimanapun, secara eksternal fokus perhatian pasar masih akan tertuju pada rapat FOMC mendatang, setelah mendapat guncangan tiba-tiba dari aksi teror di Paris. Secara teknis, terlepas apakah suku bunga The Fed akan dinaikkan atau kembali ditunda, rupiah diperkirakan akan terayun di kisaran Rp13.650-Rp14.000 per dolar AS karena kedua kondisi yang akan terjadi, kenaikan atau penundaan, sebenarnya sama-sama mengandung risiko yang cukup berbahaya bagi Indonesia.

Jika misalnya The Fed menaikkan suku bunga, yield atau imbal hasil instrumen investasi yang berdenominasi dolar akan terkerek naik dan akan menyedot banyak modal global ke mata uang dolar. Ancaman capital outflow akan merebak kemudian menekan mata uang rupiah, mengganggu eksposur impor dan mengerek naik harga-harga barang modal impor, dan mengendurkan fundamental ekonomi nasional.

Selanjutnya, BI pun diperkirakan akan menaikkan tingkat suku bunga acuan domestik mengikuti aksi The Fed untuk memperkecil kemungkinan capital outflow dan menguras devisa negara untuk melakukan pembelian aset di pasar sekunder untuk menahan penurunan permintaan mata uang rupiah sehingga dalam konteks ekonomi riil, oli untuk sektor kredit akan semakin mengering, pertumbuhan ekonomi akan semakin seret karena dinamika ekonomi riil akan semakin tak bertenaga.

Tidak bisa tidak, guncangan akan terjadi, baik karena efek negatif dari rupiah yang terseret-seret maupun karena semakin melebarnya NPI (neraca pembayaran Indonesia) akibat capital inflow, meningkatnya sovereign risk yang akan mengikis tingkat credit default swap (CDS) Indonesia, dan semakin dekatnya dunia korporasi dengan ancaman gagal bayar (default) utang luar negeri. Semua imbas ini dipastikan akan menjadi faktor penggenjot berlarut-larutnya perlambatan ekonomi nasional ke depan, bahkan bisa menjadi pemicu krisis baru.

Namun, jika kenaikan suku bunga The Fed ditunda pada pertemuan FOMC Desember mendatang, ketidakpastian baru akan muncul. Volatibilitas mata uang akan sangat terpengaruh oleh aksi-aksi spekulasi dan perilaku investor yang melakukan aksi hit and run, baik untuk mata uang maupun untuk dunia pasar modal. Capital inflow akan tertahan karena pemodal akan memperpanjang agenda wait and see sampai ada kepastian kenaikan tingkat suku bunga The Fed.

Secara analogis, toh pada akhirnya apa pun keputusan The Fed akan tetap memiliki imbas teroristik bagi dunia, terutama emerging market seperti Indonesia. Dolar akan tetap perkasa, harga komoditas akan tertekan karena standar pembayaran dilakukan dalam mata uang dolar yang kemudian akan memangkas pemasukan negara-negara eksportir komoditas.

Sejak isu kenaikan suku bunga kredit AS dihembuskan awal tahun lalu, terutama menjelang Juni sebagai bulan awal yang dijanjikan Janet Yellen untuk mulai menggarap isu pengetatan moneter, rupiah terus terkapar tanpa ampun; menembus level Rp13.000 dan berlanjut menjebol angka Rp14.000, terakhir hampir saja mendobrak level Rp15.000 per dolar AS.

Titik balik terjadi di saat penundaan kenaikan suku bunga September lalu yang diikuti paket kebijakan ekonomi jilid tiga. Rupiah mulai mereda dan jinak, tetapi belum bisa menggeliatkan ekonomi riil. Hal itu terbukti dengan semakin menurunnya porsi impor yang kemudian membuat surplus neraca perdagangan terjadi walaupun sebenarnya diakibatkan melandainya sisi impor alias bukan karena kenaikan bombastis porsi ekspor.


(ADM)

Hari Ini, Dokter Bimanesh Hadapi Vonis Hakim

Hari Ini, Dokter Bimanesh Hadapi Vonis Hakim

3 hours Ago

Dokter Bimanesh Sutarjo bakal mendengarkan sidang pembacaan putusan oleh majelis hakim Tindak P…

BERITA LAINNYA