Sikapi Kasus Novanto, NasDem Tunggu Putusan MKD

Githa Farahdina    •    Kamis, 19 Nov 2015 12:36 WIB
pencatut nama presiden
Sikapi Kasus Novanto, NasDem Tunggu Putusan MKD
Johnny G. Plate (kiri) di Ruang KK V, Komplek Parlemen, Jakarta, Senin 15 Juni 2015. Foto: MI/Mohamad Irfan

Metrotvnews.com, Jakarta: Fraksi Partai NasDem belum bersikap soal kelanjutan posisi Ketua DPR Setya Novanto. NasDem akan mengambil langkah politik kalau Mahkamah Kehormatan Dewan sudah mengeluarkan keputusan.

Wakil Ketua Fraksi Partai NasDem Johnny G Plate mengatakan jika keputusan MKD menyatakan ada pelanggaran etika serius, fraksi akan mengambil langkah politik. "Termasuk perubahan komposisi pimpinan di DPR," kata anggota Komisi XI itu, Kamis (19/11/2015).

Plate membandingkan sikap pejabat di Indonesia dan negara lain. Di negara lain, pejabat yang dianggap melanggar etika akan mengundurkan diri sebagai wujud tanggung jawab moral meski belum ada keputusan final. Sementara di Indonesia, mengundurkan diri lebih diartikan pada pengakuan bersalah.

"Ini tentu perlu didudukkan pada proporsi yang tepat. Kami mendorong DPR juga punya standard good parliamentary governance bukan saja good government governance," terang dia.

Penerapan Undang-Undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD, serta Tata Tertib harus lebih tegas, jauh dari tekanan politik, dan politisasi. Apalagi, masalah Novanto terkait standard etika parlemen.

Menteri ESDM Sudirman Said melaporkan pembicaraan diduga melibatkan Setya Novanto, pengusaha M. Reza Chalid, dan Direktur PT FI Maroef Sjamsuddin. Dalam pembicaraan itu terungkap orang yang diduga Novanto meminta saham ke Maroef untuk Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Kemarin, Staf Khusus Menteri ESDM Muhammad Said Didu menyerahkan flashdisk berisi rekaman percapakan diduga Novanto, Reza, dan Maroef, untuk melengkapi laporan Sudirman.

Menurut Sudirman, sosok politikus dalam rekaman itu juga meminta saham proyek listrik yang akan dibangun di Timika dan meminta PT FI menjadi investor sekaligus membeli tenaga listrik yang dihasilkan dari proyek itu.

Novanto mengakui pernah bertemu bos PT FI di kantornya di DPR dan di sebuah hotel di kawasan Pacific Place, SCBD, Jakarta. Namun, ia membantah meminta saham dan mencatut nama Presiden dan Wapres.


(TRK)