BNPT: ISIS Ubah Pola Teror

K. Yudha Wirakusuma    •    Jumat, 20 Nov 2015 16:41 WIB
isis
BNPT: ISIS Ubah Pola Teror
ilustrasi--Antara/Andika Wahyu

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan, militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) telah mengubah model teror. BNPT akan mempelajari dan mengantisipasi hal itu.

"Dari analisa saya, teror yang digunakan model baru. Mereka mengubah pola teror. Kalau selama ini mereka melakukan teror dan serangan di wilayah yang pendukung ISIS banyak seperti Suriah dan Irak, sekarang mereka menghantam wilayah yang pendukung mereka sedikit, tapi memiliki dampak yang sangat luar biasa," ujar Juru bicara BNPT Irfan Idris MA di Jakarta, Jumat (20/11/2015).

Strategi ISIS ini, lanjut Irfan, adalah bagian dari strategi melebarkan sayap. Sebab, saat ini mereka di Suriah tengah dibombardir pasukan Rusia. Kalau mereka tidak keluar untuk menyebarkan paham-paham ekstrem dan khilafah sekaligus menebar teror wilayahnya menjadi terbatas.

Selain itu, secara geografis saat ini wilayah ISIS masih terbatas di Suriah dan Irak. Dari sisi personel, mereka juga semakin habis.

"Dari situlah, mereka (ISIS) lantas membalas ke negara-negara yang ikut membombardir mereka melalui pengikut-pengikutnya di negara-negara tersebut. Memang secara jumlah, pengikutnya tidak terlalu banyak di setiap negara, tapi ancaman seperti teror Paris, bisa terjadi di negara-negara lainnya. Target mereka selanjutnya mungkin Italia dan Amerika Serikat," ungkap Direktur Deradikalisasi BNPT ini.

Irfan menerangkan, ancaman ISIS tentu sangat luar biasa. Kalau strategi itu terus mereka mainkan, pasti terjadi banyak teror dan ledakan bom di banyak negara yang ada simpatisan ektremis (ISIS), termasuk Indonesia.

Karena itu, kata Irfan, bangsa Indonesia harus ikut aktif membantu BNPT dan lembaga-lembaga terkait dalam penanggulangan terorisme. Caranya dengan meningkatkan kewaspadaan, juga hard approach tentang bagaimana memperketat keamanan di tempat-tempat keramaian.

Irfan juga meminta agar pemerintah, lewat Presiden Joko Widodo, membuat instruksi ke seluruh komponen bangsa untuk mengantisipasi serangan ISIS ke Indonesia. Ini penting karena mau tidak mau Indonesia telah menjadi 'bagian' ISIS dengan adanya 364 WNI yang bergabung dengan ISIS di Suriah. Pernyataan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian yang telah memantau keberadaan kantung-kantung ISIS di Indonesia juga memastikan itu.

"Meski dianggap rendah atau sedikit, tapi kalau ada dimana-mana, tentu akan sangat berbahaya. Mungkin terornya tidak sebesar Paris, tapi itu bisa menjadi pesan bahwa mereka masih ada dan eksis. Faktanya jelas seperti kasus Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PSTP) dan Investasi BP Batam Dwi Djoko Wiwoho yang gabung ke ISIS, juga dua pemuda Indonesia asal Pekanbaru yang ditangkap di Singapura, serta kasus serupa di Korea Selatan," ungkap Irfan.

Terkait salah satu tersangka teror Paris Frederick Salvi alias Ali yang pernah menjadi santri ke Pondok Pesantren Al Jawami, Bandung, Irfan Idris menegaskan pihaknya sudah mendapat penjelasan dari pimpinan pondok pesantren, Kiai Haji Imang Abdul Hamid. Menurutnya, Frederick Salvi di Indonesia hanya sekadar belajar dan silaturahmi. Tidak ada kaitannya dengan aksinya di Paris.

"Hanya kita khawatirkan ada anak muda Indonesia yang membawa dia ke sini. Bisa saja dia beralasan mau mencari salah satu pesantren dengan alasan belajar, tapi pada akhirnya membawa misi mereka mau menyebarkan paham jihad. Pesantren ini memang harus diproteksi, karena rentan anak-anak muda yang nyantri digiring untuk berjihad versi ISIS. Intinya, pesantren harus bisa menyuarakan makna jihad yang sebenarnya dan Islam yang rahmatan lil alamin," kata Irfan.


(YDH)