Menyimak 5 Nominasi Film Terbaik FFI 2015

Anindya Legia Putri    •    Jumat, 20 Nov 2015 19:00 WIB
ffi (festival film indonesia)
Menyimak 5 Nominasi Film Terbaik FFI 2015
Ketua Bidang Media dan Publikasi FFI 2015 Lukman Sardi (kiri), Ketua Panitia FFI Olga Lydia (kedua kiri), Ketua Badan Perfilman Nasional Kemala Atmojo (tengah), aktris Maudy Koesnaedy (kedua kanan) dan Ketua Juri FFI Jajang C Noer (kanan) berfoto bersama

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebanyak 21 kategori nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2015 telah dibacakan pada 12 November 2015 lalu. Dari kategori yang ada,  5 nominasi Kategori Film Terbaik FFI 2015 cukup mencuri perhatian para insan perfilman Indonesia.

Lima nominasi kategori Film Terbaik dalam FFI 2015 yaitu, Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) yang disutradarai Garin Nugroho, A Copy of Mind (2015) arahan Joko Anwar, Mencari Hilal (2015) karya Ismail Basbeth, To a Dreams (2015) karya sutradara Beni Setiawan dan Siti (2015) karya sutradara Eddie Cahyono.

Kelima nominasi film tersebut terpilih dari sekitar 61 film layar lebar yang mendaftar di FFI 2015. Dipilih oleh 85 juri kompeten di tahap awal, kelima film tersebut dirasa mewakili karya terbaik industri perfilman Tanah Air di tahun 2015.

Guru Bangsa: Tjokroaminoto, 8 Nominasi dan Piala Film Terpuji Festival Film Bandung

Apresiasi tinggi diberikan untuk Guru Bangsa: Tjokroaminoto yang menyabet nominasi terbanyak di Festival Film Indonesia 2015, dengan perolehan  8 Nominasi.

Sebagai sutradara, Garin Nugroho dinilai berhasil memetakan kembali perjuangan Tjokroaminoto dalam film berdurasi 160 menit. Film Guru Bangsa Tjokroaminoto yang berlatar zaman penjajahan, membahas spesifik tentang Tjokro yang terlahir dari kaum bangsawan Jawa dengan latar belakang ke- Islaman kuat. Dia berjuang bersama Hadji Samanhudin untuk mengubah Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam.

Dilema, suka, dan duka tergambar dari sosok personal Tjokro yang diperankan oleh Reza Rahadian. Dalam kepemimpinannya, Tjokro berhasil mengajak rakyat kecil, yang sebelumnya tidak memiliki akses ke dunia politik, kini dapat berpartisipasi melalui Sarekat Islam.

Bisa dikatakan, film ini merupakan peta kecil penggambaran keadaan Indonesia kala ini.  Diproduksi oleh Christine Hakim, Didi Petet, Dewi Umaya, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Nayaka Untara, serta (Alm) Ari Syarif, Guru Bangsa: Tjokroaminoto juga berhasil mencuri piala Film Terpuji di Festival Film Bandung 2015.

Film ini juga turut dibintangi sederat aktor tenar kaya pengalaman yakni Sudjiwo Tedjo, Maia Estianty, (Alm) Alex Komang, Egi Fedly, Ibnu Jamil, Christoffer Nelwan, Putri Ayudya, Deva Mahenra, dan Chelsea Islan.

A Copy Of My Mind, Realita Jakarta dalam Balutan Romantisme Sepasang Kekasih

A Copy Of My Mind bercerita tentang sepasang kekasih, Sari (Tara Basro), pegawai salon kelas menengah, dan Alex (Chicco Jerikho), penyunting bahasa DVD film bajakan. Secara tidak sengaja mereka menemukan sebuah DVD berisi rekaman tindak kejahatan yang melibatkan calon presiden. Asmara mereka pun terancam berakhir tragis dan berakhir hanya dengan menyisakan imajinasi ingatan salah satunya.

Film ini menyajikan realita kehidupan yang ada di Jakarta. A Copy Of My Mind mengingatkan kita tentang carut marut pemilihan Presiden 2014, distribusi DVD bajakan, balapan liar, hingga kasus penjara mewah milik Artalyta Suryani. Keseluruhan cerita tetap dalam balutan romantisme para pemain utama.

Diperankan oleh Tara Basro, Chicco Jerikho, Ario Bayu, Maera Panigoro dan Paul Agusta, film tersebut berhasil mendapatkan berbagai penghargaan pada Festival Film luar negeri seperti di Busan (19th Busan International Film Festival), 72nd Venice International Film Festival 2015, dan Toronto International Film Festival 2015 di Toronto, Kanada.

Meskipun belum tayang di Indonesia, film ini pun mampu memukau para dewan juri FFI 2015 dengan berhasil menyabet 7 nominasi. Dan di Indonesia sendiri, film ini rencananya baru akan tayang pada 11 Februari 2016 mendatang.

Mencari Hilal, Pluralisme Agama Dalam Sudut Pandang Ayah dan Anak

Film ini dibuat guna menyambut hari raya Idul Fitri 1436 Hijriyah. Menceritakan tentang pencarian hilal antara antara ayah dan anak yang memiliki latar belakang Islam yang berbeda hingga akhirnya keduanya bisa bersatu sebagai sebuah keluarga.

Film ini adalah pluralisme agama di Indonesia yang sering terjadi konflik antar keyakinan beragama, yang dituangkan ke dalam sebuah alur cerita yang berkisar pada interaksi ayah dan anak.

Namun Ismail Basbeth sebagai sutradara, berhasil menyajikan film tersebut dengan indah, sederhana dan tanpa ambisius berlebih. Gagasan cerita film ini lahir dari keprihatinan banyaknya ajaran Islam yang disalahartikan yang berujung pada peristiwa-peristiwa berlatar kebencian.

Berdurasi 94 menit ini, film ini dibintangi oleh Oka Antara (Heli), dan Deddy Sutomo yang berperan sebagai Mahmud, ayah Heli.

Toba Dreams, Pencarian Cinta Sejati Laki-laki Batak

Film yang diadaptasi dari buku karya TB Silalahi berjudul 'Toba Dreams' ini menceritakan soal cinta yang kadang tersesat dalam menemukan kebebasan.

Mengisahkan tentang kehidupan seorang Pensiunan Sersan T.B yang diperankan oleh Mathias Muchus bersama istri dan tiga orang anaknya, Ronggu (Vino G Bastian), Sumurung (Haykal Kamil) dan Taruli.

Konflik keluarga datang saat Ronggu berani memberontak ajaran ayahnya guna mendapatkan cinta Andini (Marsha Timothy), yang terhalang restu orangtua kekasihnya. Berbagai upaya pun dilakukan Ronggu untuk mendapat simpatik orang tua Andini, hingga ia sempat terbelenggu dalam bisnis narkoba besar.

Film yang juga dibintangi oleh Jajang C Noer, Tri Yudiman, Raymon Y Tungka, dan Vanessa Inez, pun berhasil menyabet 6 nominasi karena dinilai kental menghadirkan aspek budaya di dalamnya.

Siti, Kesederhanaan Curi 5 Nominasi FFI 2015

Film Siti produksi Fourcolours Films Jogjakarta diputar perdana di Jogja Netpac Asian Film Festival ke-9 tahun 2014.

Siti merupakan film panjang hitam putih pertama Eddie Cahyono sebagai sutradara. Layar Hitam Putih tak lain dipilih Eddie karena budget film ini sangat minimal, yaitu sekitar Rp150 Juta. Namun ternyata layar hitam putih justru menambah efek dramatis setiap penggalan adegan dan konflik yang ada.

Film Siti yang diproduseri oleh Ifa Isfansyah ini menceritakan tentang kehidupan seorang perempuan penjual peyek jingking di sekitar pantai Parangtritis, Yogyakarta. Semenjak sang suami lumpuh akibat kecelakaan sewaktu melaut, Siti (Sekar Sari) harus berjuang menghidupi Anaknya (Bintang Timur Widodo), Ibu Mertua (Titi Dibyo) dan Suaminya (Ibnu Widodo).

Siti pun harus menambah penghasilan dengan menjadi wanita pemandu karaoke. Namun sayang pekerjaan Siti yang baru ini mengakibatkan suaminya diam tidak mau bicara padanya. Ia pun jengkel pada suaminya. Tak hanya itu, Siti pun turut dihadapi dengan pilihan orang ketiga, Gatot, seorang polisi (Haydar Saliz), yang menyukai Siti serta mengajaknya menikah dan meninggalkan suaminya.

Film ini mengambil Pantai Parangtritis sebagai lokasinya selama total 6 hari proses syuting. Walapun tampak sederhana, film yang menggambarkan perjuangan perempuan dalam perannya sebagai istri, ibu dan juga seorang anak dalam durasi 88 menit ini mampu mendapatkan berbagai penghargaan internasional.

Di antaranya yaitu Best Performance di Singapore International film Festival 2014, Best Scriptwriting di Shanghai International Film Festival ke-18 2015, Film Panjang Terbaik AFI (Apresiasi Film Indonesia) 2015, serta berhasil masuk di berbagai festival film bergengsi di luar negeri di antaranya: Udine Far East Film Festival (Italy), Telluride Film Festival (America Utara), Vancouver International Film Festival, International Film Festival Rotterdam, Viennale International Film Festival, Hamburg Film Festival dan 5 nominasi Festival Film Indonesia 2015.

Siti masuk lima nominasi untuk kategori Film Terbaik, Sutradara Film Terbaik, Penata Kamera Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, dan Penata Musik Terbaik.


(FIT)

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

9 hours Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA