Masyarakat Solo Diajari Cara Menghadapi Banjir

Pythag Kurniati    •    Jumat, 20 Nov 2015 22:37 WIB
banjir
Masyarakat Solo Diajari Cara Menghadapi Banjir
Simulasi bencana banjir digelar di Bantaran Sungai Bengawan Solo, di bawah Jembatan Mojo, Semanggi, Jumat (20/11/2015). Foto: Metrotvnews.com/Pythag

Metrotvnews.com, Solo: Hujan lebat turun, air meluap dan sistem peringatan dini berbunyi nyaring. Beberapa warga keluar dari rumah sembari memukul kentongan sebagai peringatan air sungai meluap. Seketika situasi menjadi gaduh. Puluhan orang warga bantaran sungai Bengawan Solo di bawah jembatan Mojo, Kelurahan Semanggi, Solo, Jawa Tengah, berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.

Adegan-adegan itu diperagakan dalam simulasi banjir yang digelar Palang Merah Indonesia (PMI) Solo serta Siap Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat). Masyarakat sekitar jembatan Mojo, Semanggi, menjadi partisipan simulasi sebab wilayah mereka tergolong kawasan rawan banjir.

Kepala Markas PMI Solo, Tri Wuryanto, mengatakan ada tiga kelurahan di Kota Solo yang menjadi daerah langganan banjir, yakni kelurahan Semanggi, Sangkrah dan Kampung Sewu. “Kita latih mereka untuk menghadapi situasi banjir. Jika bencana ini datang pada malam hari dan relawan belum berdatangan, mereka tahu hal penting apa yang harus dilakukan,” kata dia saat ditemui pada acara simulasi banjir, Jumat (20/11/2015).

Tri mengungkapkan ada 30 orang Sibat yang dilatih dengan kemampuan mengevakuasi hingga mendirikan tenda dan dapur darurat untuk menghadapi ancaman banjir. PMI pun memiliki Tim Tigabelas yang disiagakan selama 24 jam. Selain menggelar simulasi banjir, PMI juga melakukan simulasi penyelamatan di air.

Ketua RW 23, Nur Rahmat, mengungkapkan masyarakat sekitar memang sering dihantui ketakutan jelang musim penghujan. “Banjir yang paling parah pada 2007 lalu hingga mencapai atas jembatan ini,” kata dia sambil menunjuk jembatan Mojo yang berada di atas bantaran.

Ketakutan masyarakat mengenai pintu air juga ia ungkapkan. “Di sini ada pintu air tapi sudah sejak 1988 tak pernah disentuh pemerintah. Pada Februari, karena pintu air ini tidak mampu mengatasi meluapnya air, maka air masuk ke pemukiman warga dan kami harus meminjam pompa air untuk menyedotnya,” kata dia.

Selain berharap masyarakatnya tangguh bencana jika banjir datang, Nur juga meminta pemerintah segera turun tangan membenahi pintu air secepatnya.


(UWA)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

6 days Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA