FFI dan Tantangan Menjadi Barometer Industri Film Nasional

Agustinus Shindu Alpito    •    Sabtu, 21 Nov 2015 13:01 WIB
ffi (festival film indonesia)
FFI dan Tantangan Menjadi Barometer Industri Film Nasional
Panitia FFI 2015 (Foto:Antara/Teresia May)

Metrotvnews.com, Jakarta: Festival Film Indonesia (FFI) 2015 menuai apresiasi positif dari masyarakat dan sineas. Hal itu tidak lepas dari daftar nominasi yang diisi oleh kehadiran film dengan konten bermutu dan sistem penjurian yang dinilai lebih fair.

Perjalanan FFI hingga menuai pujian tahun ini tidak lepas dari apa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Sebagaimana diketahui, sineas dan masyarakat sempat skeptis menilai FFI yang dipandang sebagai ajang penuh persekongkolan hingga film-film yang menjadi juaranya pun menuai kontroversi.

Salah satu reaksi keras terhadap FFI pernah terjadi pada 2006. Kala itu, FFI menetapkan film Ekskul sebagai Film Terbaik. Padahal, ada indikasi bahwa film tersebut melakukan pelanggaran hak cipta soal ilustrasi musik.
Buntutnya, Masyarakat Film Indonesia yang terdiri atas para pelaku perfilman mengembalikan Piala Citra yang pernah mereka raih.

Total 37 Piala Citra dikembalikan oleh para anggota Masyarakat Film Indonesia. Riri Riza, Mira Lesmana, Hanung Bramantyo, Marcella Zalianty, Nia Dinata, Surya Saputra, Dian Sastro, dan Melly Goeslaw adalah beberapa yang mengembalikan piala yang diraihnya di FFI.

Selain penobatan Ekskul sebagai film terbaik, persoalan penjurian dan finansial yang tidak transparan juga memicu protes terhadap FFI.

"Terlepas dari apa yang sudah terjadi, setiap festival seperti itu. Cannes dulu juga pernah 'digembok.' Itu biasa. Apa pun juga yang terjadi, ketika festival film dijalankan, dia secara otomatis menjalankan posisi politik tertentu. Itu pasti. Setiap festival punya politiknya sendiri-sendiri. Politik dalam arti sikap dan ketentuan arah yang dituju. Secara bodoh, pada sebuah festival, film horor tidak mungkin menang di situ. Itu kan sudah termasuk politik," kata Salman Aristo, penulis naskah sekaligus juri Festival Film Indonesia 2015, saat ditemui di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, berapa waktu lalu.

Keprihatinan terhadap FFI pada waktu itu untungnya berbuah manis. Setidaknya, setapak demi setapak mereka yang peduli terhadap perfilman Indonesia mau turun tangan untuk membenahi FFI.

Salman Aristo menceritakan bahwa kepedulian para sineas terhadap FFI dan upaya membenahi sistem penjurian FFI mulai terjadi pada 2010.

"Titik balik terjadi mulai 2010. Setelah selalu ada masalah ini-itu, akhirnya pada waktu 2010 mulai memakai sistem yang mengarahnya ke yang sekarang. Embrionya seinget gue pada 2010, ketika pakai penjurian sistem profesi, juri setiap nominasi sesuai dengan profesinya," papar Salman.

Sistem saat ini yang dimaksud Salman adalah sistem penjurian tertutup dengan metode pemungutan suara. Mulai tahun ini, FFI membuat sistem keanggotaan. Sistem yang juga diterapkan di Academy Awards itu dinilai akan lebih adil dalam menentukan siapa pemenang FFI.

Keanggotaan FFI diberikan kepada para sineas yang masuk dalam nominasi. Keanggotaan ini bersifat seumur hidup. Hak mereka adalah berpartisipasi dalam pemungutan suara pemilihan pemenang.

Sistem penjurian yang adil adalah kunci kredibilitas FFI. Salman menilai sudah sepatutnya FFI menjadi barometer industri film nasional.

“Gue adalah orang yang percaya FFI seharusnya jadi wajah industri. Karena sudah ada festival lain, ada AFI (Akademi Film Indonesia), Piala Maya, yang datang dari industri, dan diinstitusikan belum ada selain FFI. Dan FFI sebagai gambaran orang tentang wajah industri film Indonesia. Untuk itu, kenapa gue cocok dengan sistem voting sejak tahun lalu. Tentu ada kekurangan dan kelebihan, tapi ini masalah arah," kata Salman.

Perihal posisi FFI dalam dunia perfilman juga diungkapkan oleh Bambang Supriadi, dosen Fakultasi Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta.

"Kegiatan festival merupakan salah satu unsur dalam budaya film. Tentu saja festival juga merupakan tolak ukur dari prestasi, serta perkembangan perfilman khususnya di Indonesia. Festival memang penting diselenggarakan. Dengan adanya festival dapat mendorong kreativitas para pembuat film untuk menghasilkan karya-karya berkualitas," kata Bambang.

Bambang menilai, hal yang ideal bagi sebuah festival adalah dalam sisem penjurian. Selama FFI diisi oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dan berpihak pada visi untuk memajukan perfilman Indonesia, cita-cita menjadikan FFI sebagai barometer kemajuan industri perfilman nasional akan tercapai.
 
"Selama festival ditangani oleh insan-insan yang memang memiliki komeptensi yang memadai, panitia yang paham dalam mengelola festival, para juri yang memang memiliki kapasitas yang mumpuni, maka festival akan bisa berjalan dengan baik dan juga fair," tukas Bambang.


(ROS)