Terbatas Alat, Pengangkatan KM Wihan Dihentikan

Muhammad Khoirur Rosyid    •    Selasa, 24 Nov 2015 16:08 WIB
kapal tenggelam
Terbatas Alat, Pengangkatan KM Wihan Dihentikan
Penumpang bergelantungan di dinding kapal KM Wihan Sejahtera untuk menyelamatkan diri saat kapal akan tenggelam di Teluk Lamong, Surabaya, Jawa Timur, Senin (16/11). (Ant/Polair Polda Jatim)

Metrotvnews.com, Surabaya: Proses pengangkatan bangkai Kapal Motor (KM) Wihan Sejahtera dihentikan Kantor Kesyahbandaran Tanjung Perak, Surabaya. Sebabnya, Kesyahbandaran terkendala terbatasnya peralatan untuk mengangkat bangkai kapal yang tenggelam di Teluk Lamong itu.

Faktor lainnya adalah masalah alam yang menghalangi proses pengangkatan. “Secara resmi, hari ini, kami hentikan proses penarikan dan pengangkatan bangkai KM Wihan Sejahtera,” cetus Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak Surabaya, Rudiana, Selasa (24/11/2015).

Menurutnya, ada sejumlah faktor yang menghalangi proses pengangkatan bangkai kapal berkapasitas 200-an penumpang tersebut. Rudiana menyebut, selain keterbatasan peralatan, faktor alam menjadi kendala penarikan bangkai kapal yang tenggelam, Senin 16 November 2015 lalu.

“Sekarang, kami serahkan kembali proses penggeseran dan pengangkatan kapal kepada pihak pelayaran atau pemilik kapal, PT Trimitra Samudra,” kata Rudiana.

Dia mengaku, Syahbandar bersama tim gabungan penarik bangkai KM Wihan Sejahtera, sudah lima hari ini melakukan upaya penggeseran dari APBS. Rudiana meyakinkan, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Syahbandar memberi target 180 hari kepada pihak pemilik kapal untuk menyelesaikan proses pengangkatan kapal.

“Tapi, apabila dalam target waktu yang ditentukan itu tidak dapat terselesaikan, proses pengangkatan kapal akan diambil alih pemerintah untuk dilelang,” ujarnya.

Terpisah, Ari Widjajanto, prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Surabaya menegaskan, arus bawah laut di sekitar perairan Teluk Lamong cukup kuat. Apalagi, arus di APBS terbilang berbahaya jika dilakukan proses penyelaman.

“Prediksi dan pemantauan kami, APBS sangat berbahaya arusnya,” tutur Ari.

Sementara, dari hasil penyelaman dan pemantauan yang dilakukan tim selam Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Tanjung Perak menyebut, posisi bangkai kapal telah bergeser 20 meter dari lokasi awal tenggelam. Pada saat itu, sambil menunggu proses pengangkatan, di sekitar lokasi bangkai kapal dipasang 4 unit life craft


(SAN)