Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Tunggu Izin Amdal

Antara    •    Selasa, 24 Nov 2015 16:16 WIB
kereta cepat
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Tunggu Izin Amdal
Foto: Ilustrasi kereta cepat Jakarta-Bandung/Ant_Yustinus Agyl

Metrotvnews.com, Bandung: Direktur Utama Pilar Sinergi BUMN Indonesia Hanggoro mengatakan, proyek pembangunan kereta cepat yang menghubungkan Jakarta dengan Bandung akan mulai dibangun pada awal triwulan kedua 2016. Konsorsium PSBI yang terdiri dari PT Wijaya Karya Tbk, PT Kereta Api Indonesia, PT Perkebunan Nusantara VIII, dan Jasa Marga Tbk telah resmi melakukan joint venture dengan China Railway Corporation Co.Ltd.

"Adapun kebutuhan dananya ditaksir mencapai 5,5 miliar Dolar Amerika dengan memakan waktu pembangunan selama tiga tahun. Saat ini kami sedang menunggu penerbitan izin Amdal yang prosesnya masih berlangsung di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan," kata Hanggoro, di Bandung, Jawa Barat, Selasa (24/11/2015).

Ia mengatakan persyaratan lain yang juga sedang diproses dalam proyek kereta cepat ini adalah rekomendasi dari Gubernur Jawa Barat dan Gubernur DKI Jakarta yang ditargetkan akan selesai pada April tahun depan.

"Kami targetkan pada April sudah selesai semua. Jadi groundbreaking (peletakan batu pertama) bisa dilakukan," ujar dia.

Menurut dia, rekomendasi dari Gubernur sebagai pemangku wilayah provinsi ini punya arti penting karena berisi persetujuan trase dan rekomendasi ini akan diberikan kepada Menteri Perhubungan untuk diterbitkan persetujuan penetapan trase.

"Alhamdulillah Pak Gubernur Jabar (Ahmad Heryawan) sangat support dalam persiapan proses pembangunan kereta api cepat. Jika tanpa dukungan beliau maka enggak mungkin bisa cepat tercapai," imbuh dia.

Lebih lanjut dia mengatakan kereta buatan Tiongkok ini akan melintasi mulai dari Kawasan Gede Bage, Padalarang, menuju Kota Baru Walini dan berakhir di kawasan Halim, DKI Jakarta.

"Sebagian besar jalurnya akan menggunakan pinggiran tol Dan kebutuhan biaya pembangunan kereta api cepat ditaksir mencapai 5,5 miliar Dolar Amerika atau sekitar Rp70 triliun. Hal ini berdasarkan hasil pra-FS yang diselesaikan oleh pihak konsultan dari China," kata dia.

Ia menambahkan sekitar 75 persen pembiayaan berasal dari China Development sedangkan 25 persen sisanya dari Equity Indonesia dari empat BUMN.


(TTD)

KPK Masih Telusuri Dugaan Keterlibatan 7 Penyidik di Kasus KTP-el

KPK Masih Telusuri Dugaan Keterlibatan 7 Penyidik di Kasus KTP-el

6 hours Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan pemeriksaan internal terhadap tujuh orang penyidi…

BERITA LAINNYA