Ini 3 Risiko dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia

Eko Nordiansyah    •    Selasa, 24 Nov 2015 21:08 WIB
bankers dinnerekonomi indonesia
Ini 3 Risiko dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia
Gubernur BI Agus Martowardojo -- FOTO ANTARA/Wahyu Putro A

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2016 masih akan tertekan oleh ketidakpastian perekonomian dunia yang cenderung akan semakin kompleks. Bahkan, ketidakpastian tersebut berasal dari sesuatu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya dibandingkan dari risiko yang sudah terindentifikasi.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengungkapkan, setidaknya terdapat tiga risiko utama yang perlu diantisipasi dan disikapi. Pertama, terkait prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan akan membaik menjadi 3,5 persen, namun ada risiko proyeksi tersebut dapat menjadi lebih rendah.

"Risiko koreksi ini terutama apabila pemulihan ekonomi Tiongkok dan negara berkembang lain tidak sesuai harapan. Kekhawatiran ini cukup beralasan karena hingga kini geliat ekonomi Tiongkok dirasakan masih belum cukup kuat," kata Agus, dalam sambutannya di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2015, di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (24/11/2015).

Kedua, risiko yang perlu diwaspadai adalah penurunan harga komoditas yang diperkirakan masih berlanjut pada 2016 sejalan dengan berakhirnya super-cycle harga komoditas. Menurutnya, perkembangan ini perlu terus disikapi karena dapat semakin menurunkan ekspor Indonesia.

"Ini juga akan menghambat pemulihan ekonomi apabila kita tidak dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada ekspor berbasis sumber daya alam," terang dia.

Sedangkan risiko ketiga yaitu terkait dampak dunia yang ditimbulkan oleh proses normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), baik dari sisi waktu maupun besaran perubahan tingkat suku bunga The Fed (Fed Fund Rate).

"Selain ketiga risiko tersebut, tentunya kita perlu mencermati dinamika global lain, termasuk konstelasi kebijakan ekonomi dunia yang menjurus pada upaya meningkatkan daya saing melalui mata uang atau currency war. Karena, pengalaman kita di 2015 seperti saat Tiongkok tiba-tiba mendevaluasi mata uang yuan tanpa diperkirakan sebelumnya," pungkasnya.



(ABD)

Irman Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Setnov

Irman Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Setnov

4 hours Ago

KPK kembali memeriksa mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman. Irman diperiksa sebagai saksi un…

BERITA LAINNYA