Menperin Sebut Industri Nasional Terjegal Tiga Masalah

Husen Miftahudin    •    Kamis, 26 Nov 2015 12:30 WIB
perindustriankementerian perindustrian
Menperin Sebut Industri Nasional Terjegal Tiga Masalah
Menteri Perindustrian Saleh Husin (MI/ATET DWI PRAMADIA)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat industri pengolahan nonmigas pada kuartal III-2015 tumbuh sebesar 5,21 persen atau lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional di periode yang sama dengan angka sebesar 4,73 persen. Sayangnya, investasi asing yang masuk ke sektor industri pada kuartal III jeblok 8,52 persen menjadi USD3,15 miliar dari USD3,44 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.

Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengakui, gerak sektor industri Tanah Air terjegal tiga masalah sehingga investasi asing di sektor ini melempem. Pertama, industri nasional saat ini masih kekurangan suplai energi. Minimnya ketersediaan energi bagi industri membuat investor asing enggan menanamkan modalnya di Indonesia.

"Agar industri kita tumbuh, salah satunya tentu ketersediaan energi dengan harga yang bersaing," ujar Saleh, usai menghadiri acara Memantapkan Perekonomian Indonesia 2016, di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (26/11/2015).

Ia melanjutkan, masalah kedua yang menjegal industri nasional adalah bunga bank yang tidak kompetitif. Menurut dia, bunga bank pinjaman yang saat ini sebesar 10-11 persen membuat industri nasional sulit berkembang.

"Saya minta agar menurunkan suku bunga agar bisa bersaing. Pinjaman kredit kita kira-kira sekitar 10-11 persen, sedangkan Singapura-Malaysia hanya 5-6 persen. Artinya ini harus diturunkan, paling tidak agar kita bisa bersaing," papar dia.

Ketiga, sebut Saleh, adalah biaya logistik yang terlalu tinggi. Tingginya biaya logistik membuat industri nasional sulit bersaing dengan industri negara tetangga. "Nah inilah yang tentu kita berkoordinasi dengan seluruh sektor maupun lintas kementerian lain agar bisa betul-betul produk-produk kita bisa berdaya saing yang kuat," pungkas Saleh.



(ABD)