Karya HMI Untuk Bangsa

   •    Kamis, 26 Nov 2015 22:35 WIB
bentrokan
Karya HMI Untuk Bangsa
Razia senjata tajam di penyelenggaraan Kongres HMII ke-29 di Pekanbaru, Riau. (foto: Antara/Rony Muharrma)

Ismail Suardi Wekke, Peneliti di Pusat Studi Pendidikan Asia Tenggara, Universitas Kanjuruhan Malang;
Fungsionaris Masika ICMI Papua Barat
 
           
Dengan segala pro dan kontra yang mengiringi, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menghelat kongres yang dibuka Wakil Presiden Republik Indonesia. Sebuah perdebatan panjang termasuk besarnya dana kas Provinsi Riau sebesar Rp3 miliar yang dialokasikan untuk pelaksanaan kongres. Tulisan ini tidak akan membahas segala pro dan kontra itu. Hanya ingin memberikan pandangan berbeda berkaitan dengan potensi dan gerakan kebudayaan yang mestinya terbangun dari HMI.
           
Pendirian HMI tidak melepaskan diri dari semangat untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Maka, perjuangan yang dilakukan selalu adalah menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di satu sisi, salah satu aspek yang belum menjadi perhatian utama seluruh komponen bangsa adalah publikasi ilmiah. Jumlah publikasi perguruan tinggi kita belumlah sebanding dengan negara-negara lain, termasuk jika menjadikan jumlah penduduk dan besarnya angka perguruan tinggi kita. Untuk itu, mahasiswa Islam harus tampil ke depan mengambil posisi ini. Termasuk bagian dari mengangkat harkat dan martabat bangsa melalui karya ilmiah.
           
Tahun 2017 yang akan datang, HMI akan berusia 70 tahun, hanya dua selisih dua tahun dengan Republik. Ketika itu 1947 didirikan di ibukota Republik, tetapi bukan di Jakarta. Saat itu masih di Yogyakarta. Dengan usia yang demikian matang jika diukur pada usia sosok manusia, HMI sudah harus memperbarui strategi kebudayaan.

Sebagaimana pesan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, beliau juga pernah mengeyam “pendidikan” di bangku HMI, bahkan menjabat sebagai Ketua Umum Cabang Makassar, HMI harus menekankan pada capaian akademis, tidak lagi menjadikan politik sebagai panglima. Oleh karenanya, latihan kader yang menjadi bagian dari gerakan HMi harus menempatkan karya ilmiah sebagai bagian dari kegiatan utama. Keterampilan berbicara penting, demikian pula sama pentingnya untuk mengabadikan segala pokok-pokok pikiran yang cemerlang itu melalui tulisan.
           
Jika setiap mahasiswa yang mengikuti latihan kader diwajibkan menulis artikel jurnal, maka dalam setahun akan ada minimal 1.000 artikel jurnal. Mahasiswa Makassar yang berada di Pekanbaru yang hadir sebagai penggembira dalam rangkaian kongres menumpahkan segenap kemampuan dan tenaganya dalam bentuk artikel jurnal, maka dalam sepekan akan lahir karya-karya orisinal dan mutakhir dalam jumlah ribuan. Ini tentu akan membantu kesulitan para pengelola jurnal yang selama ini mengeluh susahnya untuk memperoleh artikel. Sehingga mereka lebih banyak menjaring dan tidak menyaring artikel untuk kepentingan penerbitan jurnal.

Pada fase selanjutnya untuk Latihan Kader Menengah setiap peserta menyiapkan lagi artikel jurnal, maka ini sudah ditarget untuk masuk ke jurnal nasional. Bahkan bisa lebih tinggi lagi, jurnal nasional terakreditasi. Sementara untuk pelaksanaan Latihan Kader Lanjut, setiap peserta dapat dilatiha untuk menghasilkan karya ilmiah yang terpublikasi di jurnal dengan indeks minimal menengah. Dengan melaksanakan tahapan-tahapan seperti ini, maka HMI sudah ikut menyumbang bagi kemajuan bangsa.

Tidak lagi ada masalah dalam hal kurangnya bank artikel, termasuk mutu dan kualitas artikel yang sangat baik karena didahului oleh diskusi dan diperbaiki secara berkesinambungan melalui diskusi rutin.

Jika di masa lalu, HMI sudah melahirkan putra-putri terbaik bangsa seperti Nurcholish Madjid, Amien Rais, Deliar Noor, dll, maka untuk abad ini sudah saatnya HMI melakukan revitalisasi gerakan dengan menambahkan keterampilan bagi kadernya dalam hal menulis karya ilmiah untuk publikasi di jurnal yang bereputasi.

Para cendekiawan sebelumnya dan ketika mereka berkiprah, saat itu tuntutan dan landscape keilmuan belum mensyaratkan penerbitan jurnal. Maka, dengan kondisi kekinian, sudah saatnya kongres HMI memutuskan untuk mengamanatkan setiap kader untuk turut memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara yang kita cintai ini dengan turut menyumbang bagi kemajuan ilmu pengetahuan melalui penerbitan berkala ilmiah.

Akhirnya, selamat berkongres. Mudah-mudahan keputusan yang dihasilkan melalui kongres yang didanai oleh uang rakyat dapat memberikan sumbangsih bagi rakyat. Termasuk dengan selesainya kongres akan segera menyusun kepengurusan yang juga memberikan perhatian terhadap tumbuh dan berkembangnya budaya ilmiah. Bukankah tujuan HMI adalah membina insan akademis? Maka salah satu kriteria insan akademis adalah kemampuan untuk memberikan sumbangsih bagi keilmuan melalui publikasi ilmiah.
 


(ADM)

KPK Diminta Hati- hati dengan Fitnah Nazaruddin

KPK Diminta Hati- hati dengan Fitnah Nazaruddin

43 minutes Ago

Tridianto mengatakan, sejak kasus Hambalang menguak, Nazaruddin dianggap kerap memfitnah Anas.&…

BERITA LAINNYA