Menkeu: Sederet Paket Dorong Manufaktur untuk Topang Pertumbuhan Ekonomi

Husen Miftahudin    •    Jumat, 27 Nov 2015 00:26 WIB
paket kebijakan ekonomi
Menkeu: Sederet Paket Dorong Manufaktur untuk Topang Pertumbuhan Ekonomi
Pembangunan ekonomi. ANT,Sigid Kurniawan.

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah mengakui, jebloknya ekspor komoditas menyebabkan pendapatan Indonesia tergerus yang akhirnya membuat perekonomian Tanah Air melempem. Maka itu, pemerintah mengeluarkan sederet paket kebijakan untuk mendorong perekonomian dalam negeri.

Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, sektor yang membuat ekonomi hanya tumbuh di kisaran 4,7 persen karena anjloknya sektor pertambangan dan perdagangan. Melemahnya daya beli masyarakat akibat turunnya harga komoditas membuat pertumbuhan sektor perdagangan dan pertambangan jauh dari harapan.

"Perdagangan besar eceran tumbuh 2,4 persen, padahal biasanya bisa tumbuh 4 hingga 5 persen. Sedangkan pertambangan hanya tumbuh 4,5 persen atau beda dua persen dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya. Jelas, ini yang membuat pertumbuhan ekonomi jadi lebih kecil dari harapan," ujar Bambang dalam acara Kompas 100 CEO Forum di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (26/11/2015).

Ia menyebut, saat ini pemerintah tengah membuat skema untuk meningkatkan sektor yang memiliki nilai tambah tinggi. Bambang menyebut, sektor manufaktur yang berpotensi menggapai semaraknya perekonomian Indonesia. Meski saat ini manufaktur hanya tumbuh 4,2 persen, namun sektor ini mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi di masa yang akan datang.

Menurut dia, sederet paket kebijakan ekonomi yang telah digelontorkan pemerintah berfokus pada menggairahkan kembali sektor manufaktur sebagai sumber pertumbuhan ekonomi nasional ke depan. Namun begitu, perlu telaahan mendalam terhadap sektor manufaktur yang akan digenjot pemerintah.

Bambang menjelaskan, sektor manufaktur yang akan digenjot pemerintah adalah sektor yang banyak menyerap tenaga kerja atau industri padat karya (labour intensive). Selanjutnya adalah industri manufaktur yang mengolah sumber daya alam (SDA) dari dalam negeri atau natural resources based. Ia menekankan agar industri dalam negeri mengolah SDA yang ada agar menciptakan nilai tambah, bukan malah diekspor.

"Jadi manufaktur tapi dari SDA yang kita miliki. Kan kita penghasil nikel terbesar di dunia, tapi sama sekali tidak buat produk stainles steel, padahal itu produk akhir nikel. Kalau kita punya bauksit, logikanya kita punya alumunium. Kalau sawit, ya harusnya produksi turunan sawit diproduksi di Indonesia. Begitu juga dengan karet," papar dia.

Sayangnya, aku Bambang, untuk mendorong sektor manufaktur ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Padahal, perlambatan ekonomi sudah terjadi dan terus merongrong pendapatan serta devisa negara.

"Maka itu, pemerintah harus menjaga hingga mendapat sumber pertumbuhan yang mantap. Untuk menahan pelambatan ekonomi, government spending (belanja pemerintah) harus masuk, khususnya belanja modal. Tujuan governmenet spending yang besar adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah pelambatan," pungkas Bambang.

















(SAW)