Kehidupan Muslim Indonesia di Kota Seribu Gereja

Fajar Nugraha    •    Jumat, 27 Nov 2015 17:13 WIB
indonesia-australia
Kehidupan Muslim Indonesia di Kota Seribu Gereja
Donor darah Komunitas KIA (Foto: Dok.KIA)

Metrotvnews.com, Adelaide: Selalu ada cara bagi warga Indonesia menghidupkan nilai-nilai luhur Islam ketika tinggal di negara yang mayoritasnya non-muslim. Hal ini dibuktikan oleh komunitas Kajian Islam Adelaide (KIA) di Australia Selatan.

Komunitas tersebut akrab membantu dan ikut menolong nyawa manusia tanpa memandang latar agama, suku dan bangsa secara tulus dilakukan

"Saya merasa sangat senang bisa menyumbangkan darah untuk orang-orang di Australia yang membutuhkan," ujar anggota KIA, Yadi Hadian, anggota KIA, dalam keterangan tertulis yang diterima Metrotvnews.com, Jumat (27/11/2015).

Sedangkan Arioma yang baru pertama kali dalam hidupnya mendonorkan darah sejak awal sadar, darah dalam tubuh yang menjadi bagian dari hidupnya sangat mungkin dimanfaatkan untuk menyelamatkan nyawa orang Australia yang tidak beragama Islam, apalagi Adelaide tersohor sebagai kota seribu gereja.

"Semangat yang saya dan teman-teman KIA usung murni kemanusiaan yang dianjurkan dalam Islam," tutur Arioma menguatkan pandangannya.

Dhani yang sudah dua kali donor darah lewat kegiatan yang dilakukan rutin oleh KIA setiap tiga bulan sekali ikut membeberkan misi penting ajang tersebut, "Aksi ini diharapkan menjadi sarana dakwah nilai-nilai Islam kepada umat lain, yang akhir-akhir ini Islamophobia cenderung meningkat".

Saat ditemui setelah salat Jumat di Flinders University, salah seorang koordinator program donor darah KIA Suryo Guritno menjelaskan tujuan memilih donor darah di antaranya untuk menunjukkan kepedulian nyata komunitas Muslim Indonesia di Adelaide kepada masyarakat Asutralia.

"Donor darah menjadi salah satu upaya meningkatkan hubungan people to people antar kedua negara sekaligus untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Australia bahwa Islam sama sekali tidak identik dengan kekerasan dan terorisme," sambung mahasiswa program doktoral Flinders University itu.

Sebagai salah satu pentolan komunitas, Suryo menuturkan bahwa aktivitas Kajian Islam Adelaide (KIA) melingkupi diskusi rutin mingguan dan kajian khusus dengan mengangkat berbagai tema keagamaan, termasuk isu keadilan gender dalam Islam, bidang lainnya seperti politik dan kesehatan dengan mendatangkan pakarnya masing-masing.

Dalam rangka menguatkan hubungan people to people lainnya KIA yang mempunyai lebih dari seratus anggota di sekitar Australia Selatan ini juga aktif melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia ke berbagai perhelatan kota Adelaide, seperti tampil di Art Gallery of South Australia, Migration Museum, OzAsia Festival, Moon Latern Festival, IndoFest serta tampil di sekolah-sekolah. KIA mempunyai beberapa kelompok seni: Ondel-ondel, Rebana El Musafir, dan Reog Ponorogo.

Pada lingkup sosial kemanusiaan KIA rutin menyalurkan zakat dan infak kepada masyarakat Indonesia yang ada di tanah air seperti Aceh, pulau Jawa, dan Indonesia Timur lainnya maupun di Australia bekerja sama dengan IndoPeduli Adelaide (komunitas relawan pasien-pasien craniofacial Indonesia yang berdatangan operasi di Adelaide), PedisCare (perawatan penderita diabetes berbasis di Malang Jawa Timur), dan sebagainya.

"KIA ingin membuktikan bahwa ketulusan kerjasama yang dianjurkan dalam Islam seharusnya diamalkan tanpa sekat agama, aliran atau mazhab, dan suku bangsa," pungkas Suryo.


(FJR)