Pertamina Bakal Didenda Jika Tak Pakai Campuran B20

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 27 Nov 2015 18:02 WIB
biofuel
Pertamina Bakal Didenda Jika Tak Pakai Campuran B20
Ilustrasi. ANTARA FOTO/ Aloysius Jarot Nugroho

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah berencana menerapkan sanksi bagi perusahaan yang memproduksi bahan bakar minyak (BBM) subsidi jika tidak mencampurkan biodiesel 20 persen pada tahun depan.

Hal tersebut dikatakan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Sofyan Djalil usai rapat koordinasi tentang Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Menurut dia, pemerintah ingin menegakkan peraturan lebih ketat agar industri melaksanakan amanat tersebut.

"Jadi pendekatan hukum, misalnya kalau tidak mencampur (biodiesel dan solar) harus didenda. Denda itu harus dilaksanakan supaya efektif," tegas Sofyan, saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat (27/11/2015).

Saat ini, perusahaan yang melakukan pencampuran solar dengan minyak kelapa sawit di Indonesia, salah satunya PT Pertamina (Persero). Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut juga merupakan pemenang tender penyaluran BBM bersubsidi bersama PT AKR Corporindo Tbk.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu mengaku, jika lalai atau mangkir dari kewajiban mencampur biodiesel dengan solar, maka perusahaan yang ditunjuk BPH Migas untuk menyalurkan BBM bersubsidi ini akan dikenakan denda Rp6.000 untuk setiap liter.

"Kalau tidak mencampur bisa kena denda Rp 6.000 per liter. Itu targetnya karena kita ingin mengurangi emisi karbon sampai 20 persen dan energi terbarukan dari energi campuran jadi target nasional. Jadi bukan membela sawit melainkan untuk mengejar target energi campuran 23 persen sampai 2025," jelas Sofyan.

Sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, tahun depan sesuai dengan roadmap pemerintah akan menaikkan persentase mandatory pemanfaatan FAME pada bahan bakar diesel dari saat ini yang berada di level 15 persen untuk PSO dan industri dan 25 persen untuk ketenagalistrikan, menjadi 20 persen dan 30 persen.

Total proyeksi kebutuhan FAME yang dapat dipasok Pertamina pada tahun depan diperkirakan mencapai 5,14 juta kl, terdiri dari 2,76 juta kl untuk PSO 1,12 juta kl untuk biosolar industri, dan 1,26 juta kl Biosolar yang dipasok untuk pembangkit listrik. Besaran ini lebih tinggi dibandingkan dengan proyek awal sekitar 4,8 juta kl.

"Apabila diasumsikan rata-rata indeks harga gas oil tahun depan di kisaran USD60 per barel, maka Pertamina akan menghemat devisa sebesar USD1,94 miliar. Langkah ini menjadi satu lagi bukti penting dan konkret upaya Pertamina untuk mencegah aliran devisa ke luar negeri, khususnya dari impor solar," kata Wianda.

Sementara itu, untuk tahun ini Pertamina menargetkan dapat menyalurkan FAME sebanyak 966.785 kl hingga akhir tahun. Jika asumsi harga indeks pasar gas oil USD60 per barel, penyerapan FAME tersebut setara dengan penghematan devisa sekitar USD360 juta.


(AHL)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA