Lakukan Kartel, Ketua KPPU: Agar Beras Impor Masuk Pasar!

Husen Miftahudin    •    Jumat, 27 Nov 2015 19:37 WIB
beraskppu
Lakukan Kartel, Ketua KPPU: Agar Beras Impor Masuk Pasar!
Ketua KPPU Muhammad Syarkawi Rauf (kedua dari kanan) (Foto: MTVN/Husen Miftahudin)

Metrotvnews.com, Karawang: Pemerintah telah melakukan impor beras sebesar 1,5 juta ton dari Vietnam dan Thailand. Impor beras ini dilakukan oleh Perum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) sebagai cadangan beras nasional mengingat musim kemarau (el nino) yang melanda Indonesia diperkirakan berlanjut dan menyebabkan produksi beras nasional berkurang.

Kondisi inilah yang memicu oknum tertentu melakukan strategi kartel beras. Menurut Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf, para oknum tersebut melakukan penimbunan dan menahan stok beras agar pemerintah segera mengeluarkan beras impor ke pasaran.

"Kita mendalami ini dan kita lihat sendiri tadi bahwa pasokan beras IR-64 kualitas medium di sini pasokannya banyak. Dugaan saya, ada oknum yang buat kartel beras dan menimbun di satu gudang besar agar pemerintah mengeluarkan beras impor," ujar Syarkawi, saat sidak di Pasar Johar, Karawang, Jawa Barat, Jumat (27/11/2015).

Dugaan dia, para pengusaha besar yang ada di balik kartel beras medium ini. Pasalnya, pengusaha besar menguasai 80 persen perdagangan beras yang ada di Indonesia, termasuk wilayah Jabodetabek yang notabene kebutuhan berasnya paling tinggi.

Syarkawi menjelaskan, beras impor yang dijual di Indonesia harganya jauh lebih murah dibanding harga beras lokal. Memiliki kualitas yang setara dengan beras medium, harga beras impor dijual hanya sebesar Rp4.500-Rp5.500 per kilogram.

"Beras impor dijual ke produsen utama jadi Rp5.500 per kg. Terus mereka jual lagi ke distributor selanjutnya jadi Rp6.500-Rp7.500 per kg. Sampai di pasar jualnya Rp9.000. Ke konsumen akhir, dijual Rp10.000 per kg. Ini kan menggiurkan bagi pedagang nakal," tutur dia.

Keuntungan yang berlebih inilah yang mendorong niat jahat para oknum melakukan kartel beras agar beras impor masuk ke pasar. "Dugaan kita karena marjinnya tinggi, si oknum cari untung berlebih lewat gelontoran beras impor di pasar. Dugaan lainnya ya terputusnya rantai distribusi," pungkas Syarkawi.



(ABD)