'Sulit Menerima Kalau Saya Terinfeksi HIV/AIDS'

Damar Iradat    •    Selasa, 01 Dec 2015 02:31 WIB
<i>'Sulit Menerima Kalau Saya Terinfeksi HIV/AIDS'</i>
Ilustrasi Stop HIV AIDS - ant

Metrotvnews.com, Jakarta: Bukan perkara mudah mendapatkan diri terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Saat pertama kali mengetahui dirinya terinfeksi HIV/AIDS, sebagian mereka merasakan adanya tekanan batin.

"Mengetahui diri dengan status HIV memang enggak mudah, seperti merasakan kiamat. Apalagi, pertama kali tahu saya positiv HIV, saya sedang hamil empat bulan," tutur GS, 35, salah satu Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) kepada Metrotvnews.com di Gedung Kementerian Kesehatan, Jalan HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (30/11/2015).

Ia mengetahui dirinya mengidap HIV/AIDS sejak 2005. Ia pun heran, mengapa ia bisa terjangkit HIV/AIDS. Gaya dan perilaku hidupnya pun sehat. Ia tidak pernah menjajakan seks maupun menggunakan narkoba lewat jarum suntik.

Nyatanya, virus mematikan itu ia dapatkan dari almarhum suaminya. Menurut penuturannya, almarhum suaminya ternyata sebelum menikah kerap melakukan kegiatan seks yang beresiko.

Perempuan itu bercerita, saat pertama kali dirinya mengetahui bahwa dirinya mengidap virus mematikan itu, yang ia lakukan hanya bisa menangis. Dalam pandangannya, setiap yang terkena HIV/AIDS sudah diputuskan bakal menemui ajal dalam waktu dekat.

Namun, pandangannya tidak terbukti. Terhitung, 10 tahun sudah dia menyandang predikat sebagai ODHA. Semangat untuk melanjutkan hidup masih terpancar jelas dari raut mukanya. Tidak ada kata menyerah melawan HIV/AIDS.

Saat pertama kali mengetahui dirinya terinfeksi HIV/AIDS, ia didampingi langsung oleh Pokdisus AIDS FKUI, Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD-KA. GS pun mulai menata kembali kehidupannya yang dianggapnya telah kiamat. Perlahan tapi pasti, ia pun bangkit.

"Awalnya, saya didampingi langsung oleh Prof Samsu, dan beliau punya LSM Yayasan Pelita Ilmu. Teman-teman dari LSM datang langsung ke rumah, memberikan motivasi, support, dan informasi yang benar. Akhirnya mereka ajak saya ikut pertemuan-pertemuan rutin mereka," papar GS.

Semenjak itu, GS mulai aktif dan mengikuti pertemuan-pertemuan soal HIV/AIDS. Di sana, ia bertemu langsung dengan teman-teman yang juga HIV positif. Pandangan akan dirinya pun perlahan berubah. Ia tak lagi menganggap dirinya lah yang paling nahas setelah mendengar cerita dari para pengidap HIV/AIDS lainnya.

"Dari situ mulai timbul percaya diri, timbul rasa ingin bangkit. Ternyata cerita saya lebih baik dari cerita yang lainnya, akhirnya timbul semangat untuk bangkit lagi, justru sekarang saya punya teman baru," ujar GS.

Baginya, bangkit adalah jalan keluar menghadapi virus tersebut. Tiga buah hatinya jadi modal semangat untuk terus bangkit. Selain itu, saat ini GS juga bergabung dengan LSM yang fokus dengan ODHA, Yayasan Spiritia.

Fase sulit yang harus dihadapi GS tak semata menerima dirinya dengan status ODHA. Memberitahu dirinya terinfeksi HIV/AIDS pun cukup berat. Ia mengaku, saat ini pun orang tuanya masih tidak bisa menerima dirinya dengan status ODHA.

Memberitahu kondisinya kepada sang anak pun harus dilalui. Namun, beruntung anak sulungnya masih bisa menerima kondisi GS. "Kebetulan yang baru tahu itu anak pertama. Itu pun tidak sengaja memberitahukannya," ucap dia.

"Jadi, waktu itu saat anak saya masih SMP kelas dua, di sekolahnya ada pelajaran soal HIV, dia lihat gambar obat yang ada di rumah yang saya minum tiap hari, akhirnya pulang sekolah dia tanya, 'mamah terkena HIV ya?' terus akhirnya saya pelan-pelan memberi pemahaman kalau saya terkena HIV. Dia kemudian tanya saya kena HIV dari mana, lalu saya jelaskan pelan-pelan kalau saya terkena HIV dari almarhum ayahnya. Beruntung dia bisa menerima," ujar GS.

Ia menuturkan, saat ini yang tahu kondisinya hanya orang-orang terdekat. Ia tidak merasa perlu menceritakan kepada tetangga atau teman lainnya. Menurutnya, membuka status tersebut tidak mengurangi bebanya.

Stigma negatif penyandang ODHA saat ini masih lekat. Ia pun takut saat memberitahukan statusnya kepada tetangga atau temannya, hal tersebut malah menjadi bumerang. Alih-alih mengurangi beban, perlakuan masyarakat kepadanya malah membuat tidak nyaman.

"Selagi kita tidak merugikan dan tidak menularkan, kita tidak perlu memberitahukannya (status ODHA)," tukasnya.

Saat ini kehidupan GS masih berjalan lancar. Setelah ditinggal suami pertamanya, ia pun telah menikah kembali, suami barunya pun menerima statusnya dengan lapang dada.

Ia juga bercerita, ketiga anaknya tidak ada yang tertular HIV/AIDS darinya. Apalagi, 11 bulan lalu dia baru melahirkan anak terakhirnya yang membuat kehidupannya makin lengkap.
(AZF)

Miryam Akui Mengarang Isi BAP Perkara KTP-el

Miryam Akui Mengarang Isi BAP Perkara KTP-el

5 hours Ago

Politikus Hanura Miryam S Haryani mengaku mencabut seluruh isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) d…

BERITA LAINNYA