Meningkatkan Penetrasi Asuransi Jiwa Lewat Dunia Digital

Angga Bratadharma    •    Rabu, 02 Dec 2015 14:53 WIB
asuransi
Meningkatkan Penetrasi Asuransi Jiwa Lewat Dunia Digital
President Director Commonwealth Life Simmon Bennet (kiri), Anggota DK-OJK Kusumaningtuti S. Soetiono (kanan) saat meresmikan peluncuran The New Financial Calculator (Dok: Commonwealth Life)

Metrotvnews.com, Jakarta: Industri asuransi jiwa memiliki peluang untuk terus bertumbuh dan berkembang di waktu-waktu mendatang, sejalan dengan masih rendahnya tingkat penetrasi asuransi. Namun, dibutuhkan berbagai macam inovasi dan kreatifitas dari pelaku industri asuransi guna meningkatkan penetrasi asuransi itu guna terus bertumbuh lebih maksimal.

Berdasarkan data OJK, dalam empat tahun terakhir yakni 2011 sampai dengan 2014, aset industri asuransi konvensional mengalami pertumbuhan rata-rata lebih dari 16 persen. Kondisi senada juga ditunjukkan oleh rata-rata pertumbuhan investasi dan premi yang masing-masing tumbuh sebesar 14,4 persen dan 21,0 persen.

Sedangkan premi industri asuransi nasional sampai dengan September 2015 telah mengalami peningkatan sebesar 17,1 persen dari posisi Agustus 2015 dan meningkat sebesar 11,9 persen dari posisi yang sama di 2014. Premi yang terbesar disumbangkan oleh perusahaan asuransi jiwa, diikuti oleh premi asuransi sosial dan asuransi umum.

Namun, industri asuransi dihadapkan pada kenyataan bahwa minat masyarakat untuk berasuransi masih tergolong rendah. Sampai akhir September 2015, tingkat penetrasi asuransi konvensional baru mencapai 2,51 persen dengan densitas sebesar Rp1,1 juta. Di sisi lain, tingkat penetrasi dan densitas industri asuransi syariah baru mencapai 0,08 persen dan Rp40 ribu.

Merambah dunia digital bisa menjadi salah satu cara untuk menggarap pasar industri asuransi yang masih sangat luas sekarang ini. Apalagi, penggunaan teknologi informasi guna memasarkan produk dan melakukan promosi tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan ongkos sehingga diharapkan mampu memperluas penetrasi asuransi sejalan dengan efisiensi biaya yang dilakukan.

Commonwealth Life, misalnya, yang telah meluncurkan kalkulator finansial versi terbaru, yang menyediakan fitur fasilitas keuangan yang mudah digunakan dan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Kalkulator finansial ini akan membantu dan memungkinkan siapa saja untuk merencanakan dan memahami tujuan dan kebutuhan finansial mereka.

Namun, President Director Commonwealth Life Simon Bennett menjelaskan, fasilitas ini tidak bertujuan untuk menggantikan peran dari profesi perencana keuangan profesional. Hanya saja Commonwealth Life berkomitmen untuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan finansial masyarakat Indonesia. 

Sementara itu, PT FWD Life Indonesia juga menjadi salah satu perusahaan asuransi yang fokus menggarap pasar asuransi di dunia digital atau melalui teknologi informasi. Dunia digital menjadi pilihan karena memang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat di pelosok-pelosok di Nusantara.

Menurut Presiden Direktur FWD Life Rudi Kamdani, teknologi memiliki peranan penting dalam meningkatkan penetrasi asuransi di Indonesia. "Dengan teknologi digital maka hubungan dengan nasabah menjadi lebih kuat. Selain itu, bisa menyediakan kemudahan dan transparansi dalam layanan yang diberikan," ujar Rudi. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak menampik masih ada sejumlah tantangan yang menghadang industri asuransi untuk terus berkembang di waktu-waktu mendatang. Namun demikian, OJK memiliki beberapa solusi agar masyarakat teredukasi dan menyadari arti penting memiliki produk asuransi.

"Dalam menjawab tantangan dan memanfaatkan besarnya peluang asuransi nasional, terdapat tiga aspek yang perlu untuk di stimulus lebih lanjut, yakni dari sisi ketersediaan supply, tumbuhnya demand, dan ketersediaan infrastruktur," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad. 

Dari sisi ketersediaan supply, industri asuransi harus dapat menyediakan variasi produk-produk asuransi yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu, OJK juga memiliki concern untuk mendukung ketersediaan produk asuransi guna mendukung pembangunan nasional. 

Sedangkan untuk memperbanyak saluran distribusi pemasaran asuransi dan memperkuat sumber daya manusia di bidang perasuransian, OJK tengah melaksanakan program 1.000 aktuaris yang bekerja sama dengan pihak asosiasi asuransi maupun perguruan tinggi, serta lembaga penyelenggara pendidikan asuransi.


(ABD)