Rantai Pasok Beras Seolah Terputus

Pythag Kurniati    •    Rabu, 02 Dec 2015 15:37 WIB
stok beras
Rantai Pasok Beras Seolah Terputus
Ketua KPPU melakukan sidak di pedagang-pedagang beras Pasar Legi, Solo, Jateng, Rabu (2/12/2015). Sidak beras di kawasan Pasar Legi Solo dilakukan untuk memastikan stok beras di kawasan produksi beras. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah tempat di Jawa Tengah. Sidak ini untuk mengendus kartel yang menyebabkan pasokan beras di Jakarta merosot.

Selain melakukan sidak di salah satu wilayah penghasil beras, Delanggu, Klaten, tim gabungan juga melakukan sidak di kawasan Pasar Legi, Solo, Jawa Tengah, pada Rabu, 2 Desember siang.
 
Ketua KPPU, Syarkawi Ra’uf mengungkapkan pada hasil sidaknya kali ini, pihaknya menemukan stok beras di petani dan pedagang mencukupi. Pedagang juga mengatakan dalam tiga hingga enam bulan terakhir ini tidak ada gangguan.

"Di Pasar Legi ini misalnya, beras berbagai kualitas ada semua dan stoknya banyak. Bahkan kualitas medium justru yang paling banyak,” ungkapnya saat ditemui usai sidak.
 
Syarkawi mengatakan, pihaknya mengendus adanya kartel dalam distribusi beras. Yang paling telihat adalah kurangnya stok terutama beras IR-64 di kawasan Jakarta. Dari yang semestinya pasokan normal 1.000 ton per hari menjadi hanya 300-400 per hari. Merosotnya pasokan sudah dalam dua minggu terakhir.

“Kita turun ke lapangan, stok cukup. Kenapa di Jakarta justru stoknya tidak ada. Ini kan seolah-olah terputus antara sentra produksi dengan sentra konsumen khususnya di pasar Jakarta, Pasar Induk Cipinang misalnya,” papar Syarkawi.

Syarkawi mengaku memantau tujuh penggilingan beras maupun pedagang besar di sejumlah wilayah di Indonesia. Seperti di Makassar, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. “Monitoring dan pendalaman terus kita lakukan. Sudah ada datanya, namun siapa-siapa saja akan kita umumkan nanti,” imbuhnya.
 
Jika memang kedapatan ada persengkongkolan menahan pasokan beras, Syarkawi mengatakan pelakunya bakal dijatuhi denda maksimal Rp25 miliar. “Selain itu juga akan dicabut izinnya jika terbukti melakukan kartel,” kata dia.

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Hasil Sembiring mengungkapkan hasil pertanian mengalami surplus 306 ribu ton dalam bulan Oktober-Desember. “Nah pasti yang ditanyakan di mana ini barangnya? Barang (beras) begitu melimpah tapi distribusinya tidak lancar,” ujarnya.

Salah seorang pedagang beras Pasar Legi, Moedjianto mengatakan pasokan beras di tokonya berasal dari daerah lumbung-lumbung padi di Solo Raya seperti Sragen, Klaten dan Karanganyar. "Stok ada terus, sebenarnya sangat mencukupi, setiap hari keluar masuk lima hingga sepuluh ton. Maka kami juga minta pemerintah tak usah impor beras. Kasihan kami pedangang dan petani," kata dia.


(SAN)