Sidang Etik Setya Novanto

Presiden Jokowi Disebut Sebagai Sosok yang Egois

Misbahol Munir    •    Kamis, 03 Dec 2015 02:13 WIB
pencatut nama presiden
Presiden Jokowi Disebut Sebagai Sosok yang Egois

Metrotvnews.com, Jakarta: Presiden Joko Widodo dituding egois dan susah menerima saran orang lain. Pernyataan ini diungkapkan Ketua DPR Setya Novanto dan pengusaha minyak Muhammad Riza Chalid dalam rekaman perbincangan dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin. Keduanya mengaku mengetahui karakter Jokowi yang egois sudah lama. 

"Kadang-kadang dia (Jokowi) kalau egonya ketinggian, ngerusak Pak. Ngono Pak. Makanya pengalaman-pengalaman saya sama dia (Jokowi), begitu dia makin dihantam makin kenceng dia (Jokowi). Nekat Pak. Waah," kata Setya Novanto dalam rekaman yang diperdengarkan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) secara terbuka, di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (2/12/2015) malam.  

Riza Chalid dalam rekaman itu langsung menimpali omongan Novanto. "Saya kaget itu Pak, Saya kan kenal Jokowi, lama sekali Pak. Saya itu jodohin terakhir, ngedorong Jokowi jadi capres. Saya, Pak Hendropriyono dan Pak Budi Gunawan. Seminggu sekali kita rapat di rumah Pak Hendro sama Jokowi. Paling lambat dua minggu sekali, selama setahun sebelum capres Pak. Walaah alot Pak, saya suruh ganti baju. Wah, Pak ganti baju dong. Saya ngobrol sama Karni Ilyas dia kan sosialis. Sosialis kok pengusaha, kalau sosialis. Itu bukan," ujar Riza Chalid.

Rekaman itu merupakan bukti yang diserahkan Menteri ESDM Sudirman Said terkait laporan dugaan pelanggaran etik Ketua DPR Setya Novanto. Pemutaran rekaman itu dimulai sejak pukul 19.27 WIB hingga pukul 20.44 WIB. Bukan hanya Presiden dan Wakil Presiden, ternyata banyak nama tokoh yang `dijual`. Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan paling sering disebut, sampai 66 kali.

Begini potongan transkip rekaman soal tuduhan Setya Novanto dan Riza Chalid terhadap Presiden Jokowi. Inisial MS untuk Maroef Sjamsoeddin, SN untuk Ketua DPR Setya Novanto, dan MR untuk Muhammad Riza Chalid. 

MS: Chemistry enggak nyambung

SN: Enggak nyambung Pak. Ketemu dua kali di tempatnya Menteri PAN, waktu pelantikan ngobrol itu lagi. Ketemu lagi. Enggaak. Ini harus kita rekayasa pak. 

MS: Pengalaman ini ya Pak

SN: Kadang-kadang dia kalau egonya ketinggian, ngerusak Pak. Ngono Pak. Makanya pengalaman-pengalaman saya sama dia, begitu dia makin dihantam makin kenceng dia. Nekat Pak. Waah

MR: Saya kaget itu Pak, Saya kan kenal Jokowi, lama sekali Pak. Saya itu jodohin terakhir, ngedorong Jokowi jadi capres. Saya, Pak Hendropriyono dan Pak Budi Gunawan. Seminggu sekali kita rapat di rumah Pak Hendro ama Jokowi. Paling lambat dua minggu sekali, selama setahun sebelum capres Pak. Walaah alot Pak, saya suruh ganti baju. Wah, Pak ganti baju dong. Saya ngobrol sama Karni Ilyas dia kan sosialis. Sosialis kok pengusaha, kalau sosialis. Itu bukan

SN: Berbahaya Pak. Bahaya kalau dia selalu begitu. Ada lagi pengalaman saya Pak. 

MS: oke



(MEL)