Penerimaan Bea Cukai Diprediksi Takkan Tercapai

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 03 Dec 2015 17:23 WIB
bea dan cukai
Penerimaan Bea Cukai Diprediksi Takkan Tercapai
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi. (FOTO: MTVN/Suci Sedya Utami)

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memprediksi penerimaan bea cukai tidak akan tercapai penuh hingga akhir 2015. Namun, setidaknya hanya memperoleh 92 persen dari target sepanjang 2015 yang mencapai Rp194,9 triliun.

Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi mengungkapkan, penerimaan bea cukai hingga akhir November baru mencapai 72 persen. Namun, sampai akhir 2015 diprediksi akan mengalami raihan yang positif, karena salah satunya disokong faktor pilkada serentak yang akan mendorong ekonomi.

"Di Desember ada penerimaan besar dari cukai rokok. Cukai rokok akan berkontribusi paling besar di Desember, peningkatan di Desember sampai tiga kali lipat bila dibanding dengan bulan-bulan yang biasa di tahun ini," ucapnya, ditemui di Gedung BKPM, Jakarta, Rabu (3/12/2015).

Selain ada sokongan momentum Pilkada, pemberlakuan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.04/2015 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 69/PMK.04/2009 tentang Penundaan Pembayaran Cukai untuk Pengusaha Pabrik atau Importir Barang Kena Cukai yang Melaksanakan Pelunasan dengan Cara Pelekatan Pita Cukai pun menjadi penentu dorongan kinerja di 2015.

Dengan adanya PMK 20, sebutnya, maka mendorong pabrik rokok kecil dan besar untuk memesan pita cukai di 2015, bila dibanding raihan di 2016. Dari hasil itu, maka pemesanan pita cukai akan naik tiga kali lipat di akhir 2015.

"Dengan adanya itu, maka perkiraan kami bea cukai akan 92 persen. Semoga bisa lebih dari (92 persen). Itu kami yakin, karena ada yang sudah pesan pita cukai, kalau batal, mereka akan kena denda," tuturnya.

Berbeda dengan cukai, bea keluar justru melempem bila dibanding penerimaan cukai. Target yang mencapai Rp12,05 triliun, justru baru mencapai Rp3,2 triliun. Hal itu lah yang membuat angka di tahun ini di bawah nilai APBN-P 2015.


(AHL)