Dirut PT Traya Tirta Didakwa Suap Mantan Wali Kota Makassar Rp5,5 Miliar

Renatha Swasty    •    Kamis, 03 Dec 2015 21:06 WIB
suap pilkada
Dirut PT Traya Tirta Didakwa Suap Mantan Wali Kota Makassar Rp5,5 Miliar
Terdakwa korupsi PDAM Makassar Hengky Wijaya mengikuti sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (3/12). (Foto:Antara)

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Utama PT Traya Tirta Makassar Hengky Widjaja didakwa memberikan duit sejumlah Rp5,505 miliar pada mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Siradjudin. Pemberian duit dalam rangka kerja sama rehabilitasi, Operasi dan Transfer (ROT) Instalasi Pengolahan Air (IPA) II Panaikang 2007-2013 antara PDAM Kota Makassar dengan PT Traya dan PT Traya Tirta Makassar.

"Terdakwa Hengky Widjaja telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yaitu diri terdakwa Rp40,3 miliar. Ilham Arief Siradjudin Rp5,505 miliar," ujar Jaksa Penuntut Umum pada KPK Irene Putrie saat membacakan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (3/12/2015).

Jaksa Irene mengungkapkan pada Januari 2005, Hengky menemui Ilham Arief di kantor Wali Kota. Dalam pertemuan itu, Hengky menyampaikan keinginannya agar PT Traya menjadi investor dalam rencana kerja sama pengelolaan IPA II Panaikang Makassar yang kemudian disetujui Ilham Arief.

Menindaklanjuti pertemuan itu, Ilham Arief mengadakan pertemuan dengan Ketua Badan Pengawas PDAM Kota Makassar Muhammad Tadjuddin Noor, Kepala Bagian Perencanaan PDAM Kota Makassar Abdul Rachmansyah, Direktur Utama PDAM Kota Makassar Ridwan Syahputra Musagani, Asisten II Ekonomi Pembangunan dan Sosial Sekretariat Daerah Kota Makassar Abdul Latief.

"Dalam pertemuan tersebut Ilham Arief memerintahkan agar PT Traya ditunjuk sebagai investor," ujar Jaksa Irene.

Selanjutnya sebelum proses lelang dimulai, Hengky dan Marketing Manager PT Traya Michael Iskandar melakukan pertemuan dengan Ilham Arief. Dalam pertemuan itu Ilham mengenalkan keduanya pada Tadjuddin, Abdul Latif dan Abdul Rachmansyah.

"Ilham kemudian memerintahkan Abdul Latif untuk menindaklanjuti rencana tahapam kerja sana ROT IPA II Panaikang dengan melakukan proses lelang. Selanjutnya Abdul Latif memerintahkan Abdul Rachmansyah untuk berkoordinasi dengan Michael Iskandar agar pelelangan diarahkan untuk memenangkan perusahaan terdakwa dengan cara memberikan pembobotan nilai paling tinggi kepada PT Traya," beber Jaksa Irene.

Dalam proses lelangnya jaksa Irene mengatakan penyiapan dokumen dibuat seolah-olah PT Traya memenuhi syarat. Selanjutnya usai diadakan penandatanganan MoU kerja sama ROT IPA II Panaikang kapasitas 1.000 liter/detik dalam jangka 9 bulan atau sampai bulan Juli 2006 PT Traya harus menyampaikan strudi kelayakan.

Pada 14 Desember 2005 Hengky kemudian menyampaikan hasil studi kelayakan IPA II Panaikang. Dalam hasil studi itu, Hengky mencantumkan PT Konsindo Lestari sebagai konsultan yang mengerjakan studi kelayakan IPA II Panaikang.

"Padahal PT Konsindo Lestari tidak pernah melaksanakan studi kelayakan tersebut," tambah Jaksa Irene.

Selanjutnya, hingga batas waktu yang telah ditentukan Hengky tidak mencantumkan program kerja, nilai investasi dan rencana anggaran biaya. Tetapi, Ilham Arief sudah mengeluarkan SK tentang panitia penyiapan kerja sama ROT IPA II Panaikang.

Dalam satu kesempatan, Hengky kata Jaksa Irene mengajukan usulan alternatif investasi air baku dan tarif air curah yakni: investasi alternatif I sebesar Rp142.6 miliar dan alternatif II Rp91.1 miliar. Padahal nilai investasi yang diajukan dalam dokumen studi kelayakan sebesar Rp70 juta.

Melihat itu, Tadjuddin memberikan pertimbangan rencana kerja sana PDAM Kota Makassar dengan PT Traya. Yang pada intinya meminta supaya kerja sama betul-betul menguntungkan PDAM.

"Dalam rapat pembahasan finalisasi, atas perintah Ilham Arief, Tadjuddin menyetujui nilai investasi Rp73 miliar dan harga air curah Rp1.350/m3. yang ditawarkan terdakwa," tambah Jaksa Irene.

Usai itu, Hengky kemudian bertemu lagi dengan Ilham Arief untuk memberikan sejumlah duit. Duit diberikan lantaran Ilham Arief telah membantu PT Traya dan mempercepat proses kerja sama.

"Terdakwa memberikan uang kepada Ilham Arief sebesar Rp2,5 miliar," beber Jaksa Irene.

Usai pemberian uang itu, Ilham Arief mengeluarkan persetujuan dengan nilai investasi dua tahun pertama sebesar Rp78,3 miliar serta mencantumkan harga air curah yang harus dibayarkan oleh PDAM Kota Makassar kepada PT Traya Rp1.350/m3.

"Padahal berdasarkan hasil kajian tim kajian kelayakan keuangan terhadap kerja sama ROT instalasi II Panaikang PDAM Kota Makassar dengan PT Traya, nilai investasi yang diperlukan hanya Rp31,5 miliar dan apabila dioperasikan oleh PDAM terdapat keuntungan dari selisih biaya produksi dengan penjualan air Rp22 miliar sedangkan bila dioperasikan oleh PT Traya terdapat kerugian Rp7,1 miliar.

Pada 30 Desember 2008 BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan meminta supaya kerja sama dibatalkan. Tapi, Ilham Arief tetap ngotot dan tetap melanjutkan kerja sama dengan membuat andedum kerja sama dengan PT Traya.

Usai itu, Hengky memberikan duit secara bertahap buat Ilham Arief. Adapun uang yang diberikan adalah Rp750 juta, Rp1,340 miliar dan Rp215 juta.

Terkait pelaksanaan kerja sama itu Hengky juga me-mark up pengeluaran sebesar Rp96,6 miliar padahal nilai riil pengeluaran Rp36,9 miliar Hengky juga menerima hasil penjualan air dari PT Traya Tirta Makassar ke PDAM Kota Makassar sejumlah Rp227,8 miliar.

"Akibatnya negara dirugikan sejumlah Rp45,9 miliar," beber Jaksa Irene.

Akibat perbuatannya, Hengky didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 atau Pasal 3 jo Pasal 18 UU nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaiman telah diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.


(ALB)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

5 days Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA