Obama Pesimis dengan Pengubahan Undang-Undang Senjata

Fajar Nugraha    •    Jumat, 04 Dec 2015 10:56 WIB
penembakan as
Obama Pesimis dengan Pengubahan Undang-Undang Senjata
Presiden AS Barack Obama (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, San Bernardino: Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama pesimis dengan upaya perubahan undang-undang senjata. Menurutnya undang-undang tersebut sulit diubah.

Wajah muram Obama terlihat pada Kamis (3/12/2015) ketika menyampaikan belasungkawa kepada anggota keluarga korban penembakan di San Bernardino, California.

Presiden Barack Obama dengan wajah muram berbicara dari Ruang Oval di Gedung Putih. Ia menyampaikan belasungkawa kepada anggota keluarga dan menyarankan kepada rakyat Amerika pasca penembakan 2 Desember 2015 yang menewaskan 14 orang di pusat pelayanan sosial di California.

"Kita akan harus melihat diri sebagai masyarakat, untuk memastikan bahwa kita mampu mengambil langkah-langkah dasar yang akan membuat seseorang, bukan tidak mungkin, tetapi lebih sulit, mendapat senjata," ujar Presiden Obama, seperti dikutip VOA Indonesia, Jumat (4/12/2015).

Itu setidaknya ke-14 kali Obama harus berpidato kepada rakyat yang terguncang akibat penembakan massal.

"Akan menjadi penting bagi kita semua, termasuk anggota Kongres, mencaritahu apa yang bisa dilakukan guna memastikan - kalau seseorang memutuskan hendak membahayakan orang - kita membuatnya lebih sulit. Sekarang ini terlalu mudah mendapat senjata," imbuhnya Obama.

Pihak berwenang di California mengatakan, korban tewas dalam penembakan massal di San Bernardino mencapai 14 sementara korban cedera meningkat menjadi 21 dan tengah dirawat di rumah sakit.

Jarrod Burguan, Kepala Polisi San Bernardino hari Kamis menjelaskan pihaknya yakin para tersangka masuk ke lokasi penembakan di Inland Regional Center dan melepaskan 65-75 tembakan. Polisi menemukan 1.600 peluru ketika melumpuhkan SUV yang digunakan para tersangka.

Para pelaku serangan juga memiliki empat magasin peluru kapasitas tinggi yang dijatuhkan oleh para tersangka dan menjadi barang bukti.

Polisi kini tengah memusatkan perhatian pada sebuah rumah di Redlands, California, di mana mereka menemukan 12 bom pipa di garasi rumah itu dan ratusan peralatan yang bisa dipakai untuk membuat bom rakitan.

Sementara itu, sehari setelah peristiwa penembakan di San Bernardino, California, pihak Demokrat di Senat Amerika mengumumkan beberapa amandemen yang katanya dirancang untuk menutup celah-celah yang dimanfaatkan dalam sistem pengecekan latar belakang dalam pembelian senjata.

Proposal tersebut termasuk pengecekan latar belakang untuk senjata yang dibeli di pameran senjata.

Sebelumnya kandidat calon presiden dari Partai Republik Ted Cruz dalam pertemuan Koalisi Yahudi Partai Republik di Washington menyampaikan kekhawatirannya bahwa penembakan massal di California itu merupakan "aksi teror Islamis"

Pihak berwenang masih menyelidiki beberapa kemungkinan motif serangan tersebut termasuk kekerasan di tempat kerja dan aksi teror.


(FJR)